Angka Stunting di Bantul Menurun
Data prevalensi stunting di Kabupaten Bantul berdasarkan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat mengalami penurunan 0,06 persen
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) mencatat data prevalensi stunting di Kabupaten Bantul berdasarkan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) mengalami penurunan 0,06 persen hingga Oktober 2023.
Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana DP3AP2KB Kabupaten Bantul, Abednego, berujar, data prevalensi stunting pada Oktober 2023 menyentuh angka 6,36 persen.
"Kenapa hanya sampai Oktober? karena data November-Desember 2023 itu masih dalam proses validasi," katanya kepada wartawan usai menghadiri pelaksanaan penentuan lokus stunting dan lokus audit kasus stunting Kabupaten Bantul, Senin (26/2/2024).
Sementara itu, pada tahun sebelumnya kasus stunting di Kabupaten Bantul berdasarkan E-PPGBM menyentuh angka 6,42 persen dan pada tahun 2021 menyentuh angka 8,36 persen.
"Lalu, kalau berdasarkan mapping-nya, walau pada 2023 di wilayah-wilayah itu mengalami penurunan yang cukup tajam, tetapi di beberapa wilayah yang tinggi itu, juga tetap tercatat cukup tinggi," terangnya.
Baca juga: Pemkab Gunungkidul Optimis Turunkan Angka Stunting pada 2024
"Misalnya, tahun lalu ada Kapanewon Imogiri dengan Kalurahan Selopamioro (kasus stunting) tinggi, ya sekarang absolutnya juga masih tinggi. Tapi, saya belum bisa memutuskan apakah benar di wilayah tersebut masih tinggi, karena kami masih menunggu data akhir tahun 2023 yang masih proses validasi," imbuh dia.
Sementara itu, Wakil Bupati Bantul, Joko Purnomo, berujar, kasus stunting di wilayah pimpinannya masih terus dipacu untuk mengalami penurunan.
Salah satu upaya strategi yang dilakukan adalah kerja keras ke bawah atau dengan menggerakkan semua sumber daya manusia yang ada di Kabupaten Bantul, terutama ibu-ibu kader, pemdamping keluarga, hingga tim pengurangan stunting.
"Caranya adalah dengan memberikan atau membuat pola ngayemi, ngayomi. Ngayemi itu adalah ketika turun ke bawah, berkomunikasi dengan pengantin baru atau ibu yang baru hamil, kita harus tahu persoalan apa yang sedang muncul di keluarga itu," jelasnya.
Dengan berbekal pengetahuan persoalan yang sendang muncul itu, nantinya ada pencarian solusi atau ngayomi agar ibu hamil tetap sehat dan bahagia, sehingga pertumbuhan janinnya berjalan dengan sehat.
Kemudian dari itu semua, akan ketemu identifikasi persoalan yang dirapatkan dan disambungkan dengan dinas-dinas terkait, sehingga masing-masing kepala dinas di Kabupaten Bantul harus memiliki program taktis untuk bisa diberikan kepada masyarakat.
Terutama terhadap masyarakat yang terindikasi terkena stunting untuk kemudian diselesaikan bersama-sama.
"Kalau itu dilakukan dan diselesaikan secara bersama-sama. Maka saya yakin, permasalahan stunting akan semakin menurun. Karena, tidak ada masyarakat atau keluarga yang terganggu psikologinya (yang kemudian berpotensi menganggu tumbuh kembang janin dan menyebabkan stunting)," pungkas Joko.(nei)
| Bantul Punya 75 Posbankum, Siap Tangani Kasus Ringan di Masing-masing Kalurahan |
|
|---|
| Petani di Kalurahan Sumbermulyo Lakukan Gropyokan Memburu Hama Tikus |
|
|---|
| PDIP Kota Yogyakarta Luncurkan Dapur Umum, Jadi 'Penyapu Ranjau' Program Pengentasan Stunting |
|
|---|
| Masterplan Pengembangan Pansela Rampung, Pemkab Bantul Kini Susun Rincian DED |
|
|---|
| Laka Lantas Truk VS Sepeda Motor di Jalan Parangtritis Bantul, Satu Orang Meninggal Dunia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Angka-Stunting-di-Bantul-Menurun.jpg)