Pilpres 2024

KISAH Warga Klaten Tak Bisa Ikut Nyoblos di London, Padahal Tempuh 750 Km ke TPS

Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di Inggris Raya sudah melakukan pencoblosan di Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 pada Minggu (11/2/2024)

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA/Istimewa
Situasi pencoblosan untuk diaspora Indonesia di Kota London, Britania Raya. Foto diambil oleh seorang warga Klaten yang sedang menempuh studi di Belfast, Minggu (11/2/2024) 

Ananda diberi kesempatan untuk mencoblos capres-cawapres di The Kia Oval, Kennington, London.

Waktu tempuhnya kurang lebih 1 jam 10 menit menuju London Gatwick Airport (LGW), bandara terdekat dari tempat coblosan.

Untuk itu, setidaknya dia harus berangkat dari Kennington jam 15:00 menuju ke bandara, sebelum kembali terbang ke Belfast, ibukota dari Irlandia Utara yang terletak di Pulau Irlandia.

Irlandia Utara merupakan daerah Britania Raya. Maka, WNI yang ada di Irlandia Utara tetap masuk ke DPT yang mencoblos di London atau Manchester.

Sementara, Irlandia adalah negara berdaulat dengan konsep republik dan menjadikan Dublin sebagai ibukota.

Bagi Anda yang mungkin ingat, Belfast adalah kota tempat dimana kapal masyur Titanic dibuat.

TEMPUH 750 KM

Perjalanan Ananda menuju London tidaklah cepat. Belfast berjarak setidaknya 750 km dari Kota London

Untuk mencapai London, Ananda harus menggunakan pesawat lantaran pulau Britania Raya dan Pulau Irlandia dipisahkan oleh Samudera Atlantik.

Jikapun menggunakan jalur darat, dia harus menempuh kurang lebih 10 jam dan menyeberangi samudera.

“Makanya aku nginep di London di hari Jumat itu dan berangkat TPS jam 09:00 GMT, tapi ujung-ujungnya gak bisa milih juga. Rugi sih menurutku. Kita di sini kan ingin memilih pemimpin kita ya,” terangnya.

Dia pergi ke London hanya dengan seorang teman, meski di London dia bertemu dengan banyak orang Indonesia lain yang menunggu giliran mencoblos.

Di akhir 2023, ia sempat berjanji akan mengusahakan untuk memilih calon pemimpin bangsa, mengingat inilah waktu yang tepat untuk meminta perubahan.

Namun apa daya, waktu tak memungkinkannya menyoblos pemimpin.

“Menurutku, pas di TPS itu agak chaos ya. Padahal ini agenda lima tahunan, kenapa gak diagendakan dengan benar. Kasihan KPPSLN ini menulis surat suara pakai tangan, padahal DPT nya saja ada lebih dari 5.000-an kan? Zaman begini lho,” tutur dia.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved