Human Interest Story

Kisah Mbah Wo, Dulu Pilot Pesawat Tempur Kini Jualan Bakmi Jawa di Maguwoharjo Sleman

Siapa yang menyangka, lelaki bergaya nyentrik ini dulu adalah pilot pesawat tempur pengebom. Penjaga langit Nusantara.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Mbah Wo, mantan Pilot Pesawat Tempur sedang memasak Bakmi. Selepas purna tugas, pria kelahiran 16 Juni 1960 itu kini berjualan Bakmi di jalan Beringin Raya, Maguwoharjo, Kabupaten Sleman. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Lelaki bertopi koboi itu terlihat cekatan memasak bahan makanan dari samping gerobak.

Api dari tungku terlihat membara.Tangannya pun tampak lincah memasukkan aneka bahan ke dalam wajan.

Tak berselang lama, satu porsi hidangan Bakmi Jawa rebus telah tersaji.

Itulah Mbah Wo.

Nama lengkapnya Marsma (Purn) Wahyudi Sumarwoto.

Siapa yang menyangka, lelaki bergaya nyentrik ini dulu adalah pilot pesawat tempur pengebom. Penjaga langit Nusantara.

Tapi kini, Ia memilih jalan pengabdian lain setelah purna dari Prajurit TNI AU

Tribun Jogja berkesempatan mengunjungi Bakmi Mbah Wo yang berada di depan kafe RedWood di Jalan Beringin Raya, Maguwoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, pada Rabu (24/1/2024) sore.

Kafe RedWood, yang mulai dibuka pada tahun 2019 ini juga milik Mbah Wo.

Kafe ini bergaya arsitektur rumah Joglo lawasan, terbuat dari kayu yang sangat kental dengan nuansa Jawa.

Mbah Wo bercerita, ide berjualan kuliner Bakmi Jawa dan kafe RedWood adalah perjalanan panjang, bukan sesuatu yang terencana.

Mbah Wo, mantan Pilot Pesawat Tempur sedang memasak Bakmi
Mbah Wo, mantan Pilot Pesawat Tempur sedang memasak Bakmi (Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin)

Inspirasinya muncul ketika suatu ketika dirinya terbang ke Lombok.

Di sana, Ia menemukan sebuah kafe milik bule yang sangat asyik.

Penyebabnya, selain makannya enak, bule tersebut juga selalu menghampiri dan menyapa ramah setiap tamu yang datang.

Dari sana, Ia berangan-angan mungkinkah suatu hari nanti bisa membangun kafe. 

"Sejak 2017 kemudian saya mulai nyari-nyari bahan-bahan bongkaran rumah. Bagi saya, kayu bongkaran rumah zaman dulu ini adalah bangunan abadi. Bisa dimanfaatkan kembali," katanya. 

Mbah Wo bergerilya mencari bongkaran rumah Jawa ini dari para pengepul.

Mulai dari Madiun, Wonosari, Sukoharjo, Kudus hingga Jepara.

Barang- barang lawasan tersebut dikumpulkan.

Hingga akhirnya pada tahun 2019, barang yang sudah terkumpul dibuat sebagai pilar untuk membangun kafe RedWood.

Nama RedWood terinspirasi dari sepenggal pengalaman dirinya yang pernah berkesempatan tugas mengunjungi pangkalan militer Amerika di Alaska.

Di sana, ada sebuah pohon besar kayu merah diberi nama RedWood.

Pengalaman itu terus terpatri diingatannya, dan kini kata RedWood diambil untuk dijadikan nama kafe miliknya.

Berjalan waktu, RedWood terus berinovasi.

Selain menjual kopi dan beragam camilan, kafe bernuansa Joglo Jawa ini juga menyuguhkan hidangan khas Nusantara.

Seperti sate kambing, sate klatak, tongseng, sop buntut, sop iga hingga kini juga menjual Bakmi Jawa.

Konsepnya adalah mengangkat kuliner dengan kearifan lokal Yogyakarta. 

"Di Yogyakarta ini kan setiap malam banyak penjual bakmi. Tapi biasanya kan di pinggiran jalan. Nah, saya ingin mengangkat kuliner bakmi ini bisa naik kelas. Punya tempat yang berkelas. Orang bisa makan bakmi dengan tempat yang luas, suasananya nyaman," ujarnya. 

Selain tempat yang luas, kelebihan bakmi Mbah Wo juga pada jam buka.

Jika biasanya Bakmi hanya buka di malam hari, tapi di kafe RedWood ini, kuliner bakmi bisa dinikmati pelanggan dari pagi hingga malam hari.

Mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB malam.

Soal resep, hidangan Bakmi Mbah Wo, si mantan pilot pesawat tempur jenis Hawk pabrikan Inggris dan Sky Hawk dari Amerika Serikat ini mengambil resep dari hasil racikan citarasa sendiri. 

"Resep saya olah sendiri. Karena dari dulu, saya memang paling suka bakmi. Terutama bakmi rebus," kata mantan Komandan Skadron Udara 11, Lanud Hasanuddin ini. 

Bakmi Jawa rebus racikan Mbah Wo di Kafe RedWood, Maguwoharjo, Sleman
Bakmi Jawa rebus racikan Mbah Wo di Kafe RedWood, Maguwoharjo, Sleman (Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin)

Rekrut Belasan Anak Muda Indonesia Timur

Kafe RedWood cukup luas. Berdiri di atas lahan seluas 2.500 meter persegi.

Tempatnya nyaman, bersih dengan arsitektur Jawa dan pohon perindang.

Kafe ini juga dilengkapi dengan kolam ikan, toilet hingga musholla. Asyik untuk menikmati kuliner sambil menikmati waktu luang.

Mbah Wo mengatakan, selepas dirinya purnatugas dari prajurit TNI bukan berarti lepas segala pengabdian.

Dirinya, kini mengaku lebih leluasa untuk berkarya dan mengekpresikan segala minat yang dulu belum terealisasi.

Satu di antaranya, membangun kafe dan jualan kuliner Bakmi.

Kini, Ia mengaku bersyukur karena usahanya sudah berjalan dan bisa merekrut 18 anak-anak muda.

Mayoritas dari mereka adalah anak-anak dari Indonesia Timur. 

"Kenapa?. Karena saya ingin berbagi. Melihat mereka, saya memiliki rasa kepedulian sosial. Mereka ini kan merantau. Makanya kita rangkul. Mereka ulet dan setia. Loyalitasnya bagus. Dan ternyata bisa, mengikuti apa yang saya ajarkan," kata Mbah Wo

Pria yang pernah tugas dinas di Kedutaan Beijing (2006-2009) sebagai Atase Pertahanan ini mengaku ingin memberikan inspirasi kepada generasi muda maupun purnawirawan TNI lainnya, bahwa ketika sudah purna bukan berarti selesai mengabdi.

Tapi harus terus berkarya. Baginya, jalan berwirausaha ini adalah cara agar terus memiliki nilai dan bermanfaat. 

"Karena kalau kita berwirausaha, kita kan harus mengupayakan bagaimana memberikan gaji kepada karyawan-karyawan kita. Ini tantangan. Tapi saya bersyukur, dengan ini membuat saya bisa terus berbagi," ujar pria lulusan AAU Adisucipto tahun 1985 ini.

( tribunjogja.com/ ahmad syarifudin )

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved