Pemkab Sleman Waspada Polio, Anak di Perbatasan Sleman-Klaten Akan Diimunisasi Massal

Upaya antisipasi dilakukan Dinkes Sleman dengan berencana menggelar Outbreak Response Immunization (ORI) atau pemberian imunisasi massal

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
dok.istimewa
Ilustrasi vaksin polio 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mulai mewaspadai penyebaran penyakit Polio di wilayahnya seiring temuan kasus di Manisrenggo, Klaten.

Kasus inipun bahkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Upaya antisipasi dilakukan Dinkes Sleman dengan berencana menggelar Outbreak Response Immunization (ORI) atau pemberian imunisasi massal, di wilayah perbatasan dengan Klaten. 

"Iya. Karena kita wilayah yang berbatasan langsung dengan Klaten kemungkinan akan dilakukan ORI di wilayah yang langsung berbatasan dengan klaten. Kami baru bersurat ke Kemenkes dan Dinkes DIY terkait hal tersebut dan sedang dikaji oleh tim Ahli dari pusat," kata Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama, Kamis (4/1/2024). 

Tercatat ada satu pasien Polio yang sedang dirawat di RS Sardjito dan itu adalah pasien dari Manisrenggo, Klaten.

Artinya, sejauh ini belum ada temuan kasus polio di Bumi Sembada.

Cahya mengatakan cakupan imunisasi polio di Kabupaten Sleman sejauh ini sudah cukup tinggi yaitu lebih dari 95 persen.

Adapun untuk Acute Flaccid Paralysis (AFP) rate di Sleman sudah 3/100.000 dalam dua tahun terakhir dan semua hasil pemeriksaannya negatif polio.

Angka ini melebihi target nasional yang dipatok 2/100.000 untuk anak di bawah 15 tahun. 

Apalagi, sejak tahun 2014, imunisasi polio di Sleman sudah menggunakan suntikan dengan Injeksi Polio Vaksin atau IPV.

Hal ini berbeda dengan Kabupaten lain, ada yang masih dengan Oral Polio Vaksin (OPV) atau pemberian vaksin melalui tetes di mulut.

Pemberian imunisasi Polio dengan cara OPV ini dinilai beresiko karena OPV atau vaksin tetes polio itu bisa terpapar ke lingkungan lewat faeces atau tinja sehingga menjadi virus polio liar di lapangan. 

"Kalau di Sleman dan DIY sudah menggunakan IPV atau vaksin suntik polio sejak tahun 2007 sehingga dimungkinkan sudah tidak ada lagi virus polio liar di lingkungan, karena pakai vaksin suntik tidak lewat pencernaan atau lewat faeces seperti yang vaksin polio tetes," kata Cahya. 

Lebih lanjut, mantan Dirut RSUD Sleman ini mengimbau kepada orangtua yang sedang mempunyai anak kecil untuk mengikuti vaksinasi IPV sesuai program yang ditentukan.

Harapannya agar anak terbentuk kekebalan terhadap polio

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved