Berita DI Yogyakarta Hari Ini
BNPT Sebut Indeks Serangan Terorisme Turun 56 Persen di 2023
Indeks potensi serangan terorisme pada 2023 menurun sekitar 56 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Gaya Lufityanti
"Serangan teroris secara fisik mengalami penurunan, tapi gerakan di bawah permukaan, masih aktif. Mereka masih melakukan pelatihan, perekrutan, dan penggalangan dana," tuturnya saat memberikan sambutan.
Ditambahkan Ibnu Suhendra, tujuan dari diskusi umum untuk memberikan kritik terhadap buku karangan Aman Abdurrahman sehingga harapannya nanti bisa memutus jaringan teroris untuk proses deradikalisasi.
"Di media sosial, mereka masih melakukan propaganda yang mengajarkan antidemokrasi, antikeberagaman. Sasaran mereka anak muda yang dinilai masih belum stabil, masih dalam proses mencari jati diri, dan dekat dengan teknologi media sosial. Hal ini dimanfaatkan untuk merekrut ke dalam pemahaman radikal dan jaringan terorisme," imbuhnya.
Untuk itu dia mengajak semua kalangan untuk perlunya memerangi paham radikal terorisme melalui pemutusan rantai penyebaran dengan strategi multipihak.
Salah satunya melibatkan civitas akademika untuk mengoptimalkan penanganan tindak pidana terorisme.
"Dari Global Terorisme Indeks, Indonesia berada di rangking 24, padahal tahun sebelumnya, berada di ranking 43. Selain itu, dari hasil BNPT bersama lembaga survei, dalam 5 tahun terakhir, terjadi tren peningkatan intoleran pasif naik menjadi intoleran aktif. Kita harus cegah agar tren kenaikan ini tidak terus naik," tuturnya.
Dekan Fishum UIN Suka Kalijaga, Dr Moch. Sodik mengatakan pihaknya telah banyak bekerjasama dengan berbagai kalangan untuk mengatasi terorisme, salah satunya berkolaborasi dengan BNPT RI.
Ia pun mengapresiasi kegiatan diskusi umum karena sebagai pengetahuan bagi generasi muda, khususnya mahasiswa agar tidak terpapar radikalisme.
"Sinergitas seperti harus kita tingkatkan karena masalah terorisme itu tersembunyi sehingga kalau tidak berkolaborasi akan berat," katanya.
Ia pun bercerita fakultasnya memiliki keragaman baik mahasiswa yang muslim ataupun non-muslim, bahkan beragam suku bangsa dari yang terjauh sampai terdekat.
"Persoalan kemanusiaan merupakan persoalan yang sangat prinsip sehingga terus mendorong semangat persaudaraan untuk Indonesia kuat dan berkembang," tuturnya.
"Diskusi umum semoga menjadi awalan untuk mengembangkan budaya damai agar Indonesia kuat," imbuhnya.
Salah satu pembicara diskusi umum, Dr Bono Setyo mengatakan peran sekolah dan perguruan tinggi sangat berperan dalam pencegahan ideologi radikalisme.
Ia menyebut berdasarkan riset BNPT, usia 16-30 banyak yang terpapar radikalisme.
"Usia-usia itu kan usia pelajar SMA dan mahasiswa karena tak dipungkiri anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah. Tindakan preventif sangat dibutuhkan dari keluarga dan sekolah," tutur Dr Bono. ( Tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/BNPT-Sebut-Indeks-Serangan-Terorisme-Turun-56-Persen-di-2023.jpg)