Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta Bekali Calon Guru Hadapi Era Society 5.0
Konferensi yang digelar secara hybrid fokus terhadap pendidikan agama islam, pendidikan dasar dan pendidikan matematika.
Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Sri Cahyani Putri Purwaningsih
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Universitas Alma Ata (UAA) Yogyakarta membekali mahasiswanya di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) agar siap menghadapi era society 5.0.
Pembekalan dilaksanakan melalui International Conference on Education (AAICE) dengan tema "Education for Sustainable Development Awareness toward Society 5.0".
Konferensi yang digelar secara hybrid fokus terhadap pendidikan agama islam, pendidikan dasar dan pendidikan matematika.
Kegiatan ini dihadiri oleh pakar pendidikan sebagai keynote speaker dari berbagai negara seperti Dr. Wahyudi (Directorof SEAMOLEC, Indonesia), Prof. Masami Isoda, Ph.D (University of Tsukuba Jepang), Kok Ming Ng, Ph.D (Casio Singapura), Prof.Dr.Tomita Akahiko (Wakayaman University, Jepang) Muhammadafeefee Assalihee, Ph.D (Prince Songkla Universty, Thailand), Dr. Andreas Daniel Matt (Chief Executive Officer Bei Imaginary, Berlin Jerman) dan Prof. Zsolt Lavicza (Johannes Kepler University, Austria).
Berbagai penelitian pendidikan dari peneliti berbagai universitas dalam negeri dan luar negeri seperti Malaysia, Palestina, Filipina, Thailand dan Austria juga dipaparkan untuk membahas berbagai inovasi pendidikan era society 5.0
"Pendidikan menjadi tantangan yang berat bagi generasi yang akan datang khususnya dalam menghadapi era revolusi industri 5.0. Konferensi diselenggarakan untuk menjawab tantangan era disrupsi," kata Prof. Dr. H. Hamam Hadi, MS., Sc.D.,Sp.GK, Rektor UAA Yogyakarta, Senin (18/9/2023).
Revolusi industri 5.0 lebih menitikberatkan pada integrasi antara teknologi canggih seperti AI, IoT dan teknologi robot teknologi dengan keahlian manusia dan inovasi yang dapat mendorong perkembangan sistem produksi yang lebih efisien, fleksibel, berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan.
Dimana saat ini, lanjut Hamam, generasi milenial lebih menyukai pembelajaran seperti ruang guru, akademika kimia, game edukatif dan artificial intelligence dibandingkan pembelajaran di dalam kelas. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Konferensi-Internasional-oleh-UAA-Yogyakarta.jpg)