Harapan Warga Soal Rencana Pemkab Sleman Bangun TPST Minggir

Lahan yang digunakan untuk TPST Minggir ini memanfaatkan Tanah Kas Desa (TKD) seluas 6.600 meter persegi.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman berencana membangun Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di wilayah Minggir, tepatnya di Padukuhan Denokan, Kalurahan Sendangsari untuk menanggulangi persoalan sampah.

Warga setempat diakui sudah menerima.

Tetapi ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan, yakni setelah TPST terbangun, sampah yang masuk diharapkan dapat dikelola dengan baik. 

"Ke depan jangan bau, jangan ada lindi, lalat juga jangan ada. Kemudian tidak mengganggu pengguna jalan. Itu harapan warga," kata Lurah Sendangsari, Afan Nur Hisan, ditemui pada Senin (4/8/2023). 

Afan mengungkapkan, warga berharap nantinya ada jalan khusus bagi truk pengangkut sampah yang akan masuk ke tempat pengelolaan sampah sehingga tidak menggangu pengguna jalan umum.

Jalur tersebut bisa dibuat dengan memperbaiki jalan yang ada diseputar lokasi TPST sepanjang lebih kurang 900 meter.

Nantinya, truk pengangkut bisa masuk dari arah selatan kemudian keluar dari utara atau diberlakukan one way. 

Mengenai lahan yang digunakan untuk TPST Minggir ini memanfaatkan Tanah Kas Desa (TKD) seluas 6.600 meter persegi.

Kini lahan tersebut masih berbentuk area persawahan yang ditanami tebu.

Afan bercerita, rencana pembangunan TPST ini sebenarnya sudah berproses sejak 2021 lalu.

Sosialisasi di tingkat Kalurahan juga sudah dilakukan pada tahun 2022 yang dilanjutkan dengan studi banding ke TPST Mengwi dan Jimbaran, Bali.

Dalam prosesnya, pembangunan TPST ini memang dipercepat karena Kabupaten Sleman membutuhkan untuk menanggulangi permasalahan sampah. 

Sosialisasi di padukuhan Denokan maupun di Padukuhan sebelahnya yang kemungkinan ikut terdampak, kata dia, telah dilakukan pada bulan Agustus lalu.

Sejauh ini, Izin gubernur soal pemanfaatan TKD untuk TPST juga sudah terbit. 

"Akhir September atau awal bulan Oktober ini kemungkinan sudah mulai dibangun. Diawali penyiapan lahan," kata dia. 

Sebagaimana diketahui, TPST wilayah barat direncanakan dibangun di padukuhan Denokan, Kalurahan Sendangsari, Minggir, Kabupaten Sleman.

Proses pembangunan TPST ini dipercepat dengan target operasi tahun depan, seiring mulai dioperasikannya TPST Tamanmartani di wilayah timur.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Epiphana Kristiyani sebelumnya mengungkapkan anggaran sementara yang disiapkan untuk membangun TPST Minggir kurang dari Rp10 miliar. 

"Yang sudah dipastikan (di Minggir) dana kita Rp10 miliar kurang. Itu APBD murni," kata Epiphana.

Pihaknya mengaku masih berupaya mencari tambahan anggaran, agar pembangunan TPST di Minggir segera terwujud.

Jika sudah beroperasi, pengelolaan sampah di TPST Minggir dilakukan dengan sistem zero sampah.

Artinya, sampah yang masuk tidak akan ditumpuk melainkan dikelola dengan cara memisahkannya.

Sampah organik akan diolah menjadi kompos sedangkan sampah residu dikelola dengan sistem pirolisis menjadi Refuse Derived Fuel atau RDF. Ini merupakan hasil pengolahan sampah yang telah dikeringkan.

"Untuk RDF ini kami sudah siap, karena sudah ada offtaker atau pembelinya," kata Epi. 

Nantinya, TPST Minggir dirancang dengan tiga modul berkapasitas 80 ton per hari. Hal ini serupa dengan TPST Tamanmartani yang juga memiliki kapasitas 80 ton per hari.

Artinya, jika dua tempat pengelolaan sampah beroperasi sekaligus diharapkan mampu menyelesaikan 160 ton sampah tiap hari di Kabupaten Sleman. 

Jumlah tersebut belum cukup ideal untuk menampung seluruh sampah yang dihasilkan di Kabupaten Sleman.

Pasalnya, sampah di Sleman yang dikirim ke TPA Piyungan mencapai 254 ton dengan rincian 173 ton dilayani Pemerintah.

Sedangkan yang dilayani swasta 81 ton. Karena itu, disamping membangun infrastruktur, Kabupaten Sleman juga berupaya menggalakkan gerakan pengurangan dan pemilahan sampah di masyarakat. 

Sejauh ini, kata Epiphana, hasilnya cukup menggembirakan.

Semenjak TPA Piyungan ditutup, gerakan pengurangan dan pemilahan sampah di masyarakat berjalan cukup masif.

Hal tersebut terbukti dari kuota sampah yang dikirimkan dari Sleman ke TPA Piyungan.

Jika sebelumnya bisa mencapai ratusan ton per hari kini tinggal 6 truk saja atau hanya puluhan ton  per hari. 

"Sampai sekarang kami masih ngirim sampah ke TPA Piyungan. Tapi terbukti turun sampai 76 ton perhari. Makanya saya optimis. Masyarakat jangan berhenti memilah," kata dia.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved