Alasan Perusahan Pengembang Chatbot ChatGPT Diprediksi Menuju Bangkrut

Perusahan pengembang chatbot kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ChatGPT, OpenAI, diprediksi menuju kebangkrutan.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
IST
OpenAI 

Perusahaan yang dipimpin oleh CEO Sam Altman ini menargetkan pendapatan tahunan sebesar 200 juta dollar AS (sekitar Rp 3 triliun) pada tahun 2023, dan 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 15,3 triliun) pada 2024.

Analis menilai, target pendapatan ini terbilang ambisius mengingat angka kerugian yang kian hari kian meningkat.

Setelah popularitasnya melejit di awal 2023, layanan ChatGPT kini tengah berada di tren penurunan jumlah pengguna.

Menurut SimilarWeb, basis pengguna ChatGPT turun 12 persen pada Juli 2023 dibandingkan Juni 2023, yakni dari 1,7 miliar pengguna menjadi 1,5 miliar pengguna.

Penurunan ini terjadi pada pengguna yang memanfaatkan chatbot AI ChatGPT di situs web, tidak termasuk API (Application Programming Interface) OpenAI.

Analis melihat API OpenAI berpotensi menjadi bumerang bagi OpenAI.

Pasalnya, lewat API, OpenAI menyediakan beberapa model bahasa besar (large language model/LLM) sumber terbuka (open source) yang bebas digunakan dan diizinkan untuk digunakan kembali, tanpa lisensi apa pun.

Hal ini bisa membuat organisasi membuat chatbot AI-nya sendiri yang disesuaikan secara spesifik sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Dalam skenario seperti itu, pengguna kemungkinan enggan memilih chabot AI ChatGPT versi berbayar yang disediakan OpenAI. Hal ini bakal membuat OpenAI sulit membukukan pendapatan yang konsisten. (kompas/Galuh Putri)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved