Penutupan TPA Piyungan

Tumpukan Sampah Tutup Akses Sejumlah Ruas Jalan di Jogja

Berdasar pantauan Tribun Jogja, Kamis (3/8) siang-sore, sampah-sampah tampak bertebaran di sejumlah tepi ruas jalan.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM/Azka Ramadhan
Tumpukan sampah yang tampak meluber dan menutup akses Jalan Sastrodipuran, Kota Yogyakarta, Kamis (3/8/2023) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebanyak 17 depo sampah di Kota Yogyakarta mulai dioperasikan secara terbatas, sehingga dapat menerima pembuangan limbah dari penduduk.

Tapi, tingkat kesadaran warga untuk mengantisipasi situasi darurat sampah rupanya masih minim, lantaran tumpukan limbah di jalanan sejauh ini masih terus bermunculan.

Berdasar pantauan Tribun Jogja, Kamis (3/8/2023) siang-sore, sampah-sampah tampak bertebaran di sejumlah tepi ruas jalan. Mulai Jalan KH Wakhid Hasyim, Jalan Cendana, Jalan Sukonandi, Jalan Sastrodipuran, dan Jalan Magelang.

Tapi, kondisi tumpukannya memang tak lagi menggunung seperti tempo hari, meskipun sebarannya terbilang cukup masif di beberapa titik sekaligus.

Rata-rata sampah yang dibuang di tepi jalanan tersebut kondisinya tak terpilah, karena jika dilihat dari dekat hampir seluruh bungkusan itu berisi limbah sisa makanan, maupun plastik dan kardus.

Tumpukan sampah yang tampak meluber dan menutup akses Jalan Sastrodipuran, Kota Yogya, Kamis (3/8/2023) sore.
Tumpukan sampah yang tampak meluber dan menutup akses Jalan Sastrodipuran, Kota Yogya, Kamis (3/8/2023) sore. (TRIBUNJOGJA.COM/Azka Ramadhan)

Salah satu dampak paling parah tampak di Jalan Sastrodipuran, Gondomanan, Kota Yogya, di mana akses jalan pun sampai tertutup oleh luberan sampah.

Seorang warga sekitar, Rudi mengungkapkan, sampah mulai menumpuk di Jalan Sastrodipuran sejak kisaran 23 Juli 2023 lalu, atau hari perdana penutupan TPA Piyungan.

Mengingat depo-depo sampah sempat ditutup secara penuh, limbah yang terbuang di ruas jalan itu makin hari makin menggunung.

"Dulu enggak sebanyak ini, ya, tapi sekarang meluber sampai jalan," urainya, Kamis (3/8).

Oleh sebab itu, Rudi menginstruksikan supaya ruas jalan yang sudah terhalang luberan sampah agar sekalian ditutup.

Bukan tanpa alasan, sampah yang meluber di ruas jalan kecil tersebut seringkali terseret kendaraan bermotor, terutama roda empat. Sehingga membuat kondisinya semakin berserakan.

Benar saja, sebuah papan penanda dengan pesan larangan melintas dipasang di sisi selatan dan utara Jalan Sastrodipuran. Seakan tak menghiraukan aroma tidak sedap yang muncul dari gunungan limbah, warga pun begitu telaten menghalau setiap pengendara kendaraan bermotor yang akan melintas.

"Sekalian (jalan) saya tutup. Kasihan yang punya rumah di sana (dekat tumpukan sampah). Kalau ada mobil yang masuk dari sana, sampahnya pasti ke bawa sampai sini (depan rumahnya) itu," ucap Rudi.

Ia meyakini, sampah-sampah yang menumpuk itu tidak sepenuhnya berasal dari masyarakat setempat, lantaran jumlahnya yang terus meningkat secara signifikan. Terlebih, setelah mengamati isi sejumlah bungkusan yang terbuang di Jalan Sastrodipuran tersebut terdapat limbah yang berasal dari hotel-hotel sekitarnya.

"Harapannya, ya, segera bisa diangkut," cetusnya.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved