Gempa Guncang Bantul DIY

CERITA Sejoli di Gunungkidul Pasrah Saat Gempa Melanda, Bertahan di Reruntuhan

Gempa bermagnitudo 6,0 (sebelumnya disebutkan M 6,4) pada Jumat (30/6) malam mengakibatkan rumah orang tua Marsinah (40) rusak

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Joko Widiyarso
Tribunjogja.com/Alexander Ermando
Marsinah saat berada di bagian belakang rumah orang tuanya yang rusak akibat gempa Jumat (30/06/2023) malam. Rumah itu berada di Pedukuhan Kuwon, Kalurahan Pacarejo, Semanu. 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Gempa bermagnitudo 6,0 (sebelumnya disebutkan M 6,4) pada Jumat (30/6) malam mengakibatkan rumah orang tua Marsinah (40) rusak. Rumah itu berada di Padukuhan Kuwon, Kalurahan Pacarejo, Semanu, Gunungkidul.

Saat didatangi, Marsinah tengah berkumpul bersama keluarganya di tenda yang didirikan sejak Jumat malam. Ibunya, Parni (60) yang tengah sakit berbaring di atas dipan dalam tenda.

Marsinah lalu mengajak ke bagian belakang rumahnya. Di sana, masih ada sisa-sisa material bangunan rumah yang ambrol akibat gempa kuat tersebut.

"Bagian depan masih aman. Tapi kami tidak berani tinggal di dalam karena temboknya retak," tuturnya, Sabtu (1/7).

Keluarga Marsinah masih trauma dengan gempa besar pada 2006 lalu. Apalagi rumah yang kini rusak itu juga rata dengan tanah seusai terjadi gempa hebat yang melanda DIY-Jawa Tengah kala itu.

Rumah tersebut langsung dibangun lagi usai gempa 2006. Nahas, kerusakan karena gempa kini terulang lagi, meski tidak separah peristiwa 17 tahun lalu.

Saat gempa Jumat malam itu Marsinah sedang berada di Sleman, tempatnya bekerja. Rumah tersebut hanya ditempati ibu dan sang ayah, Wakimin (77).

"Sebenarnya ada bulik saya, tapi lagi di masjid," ujar Marsinah yang bekerja sebagai asisten rumah tangga ini.

Saat gempa terjadi ayahnya tetap berada di dalam rumah demi melindungi sang istri. Keduanya baru keluar setelah getaran mereda, dibantu oleh warga sekitar.

Marsinah kini memilih menetap sementara waktu di tenda, menemani kedua orang tuanya. Apalagi ibunya sedang membutuhkan perhatian khusus, karena sejak dua bulan lalu menderita stroke.

Marsinah tak menampik kondisi keuangan jadi semakin berat seusai kejadian ini. Ia pun berharap ada bantuan untuk memperbaiki rumah orang tuanya yang rusak.

Wakimin mengungkapkan guncangan gempa terjadi begitu saja. Tanpa berpikir panjang, ia pun langsung lari ke kamar untuk melindungi istrinya. Sebab istrinya yang kondisinya lemah tidak bisa langsung dibawa keluar dari rumah.

Ia pun lantas memeluk istrinya tersebut saat masih di tempat tidur, berharap keselamatan. "Saya pikir, mungkin sudah takdirnya untuk mati bersama saat itu," tuturnya.

Ternyata Tuhan masih melindungi, keduanya selamat. Para tetangga pun juga sigap membantu membawa Parni keluar dari rumah, bersama ranjang tempatnya berbaring. Wakimin mengaku tak tahu kapan kembali lagi ke dalam rumah. Sebab ia trauma dengan gempa malam itu.

Urusan mandi-cuci-kakus pun kini terpaksa menumpang di rumah tetangga. Sebab kamar mandi miliknya yang berada di belakang rumah rata dengan tanah. "Saya harap ini yang terakhir kali, jangan ada gempa lagi," ucap Wakimin.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved