Mengenang Kembali Gempa Dasyat 2006 Lewat Pameran Foto “Kilas Pitulas”

Pameran fotojurnalistik bertajuk “Kilas Pitulas” ini digelar di warung mie ayam dan bakso Dhongso, Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Wawan H Prabowo
HANCUR DIGUNCANG GEMPA : Korban gempa memilah material bangunan rumahnya yang hancur akibat di guncang gempa M 5,9 di Jalan Imogiri Timur, Desa Wirokerten, Kecamatan Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta, Senin (5/6/2006). Berdasar data sejarah kegempaan, DI Yogyakarta setidaknya pernah dilanda 12 kali gempa bumi merusak sebelum bencana 2006, yaitu pada tahun 1840 dan 1859 yang diikuti tsunami, 1867, 1875, 1937, 1943, 1957, 1981, 1992, 2001, 2004. (Wawan H Prabowo) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta menggelar pameran fotojurnalistik bertajuk “Kilas Pitulas” untuk memperingati 17 Tahun gempa bumi berkekuatan M 5,9 yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 26 Mei 2006.

Pameran fotojurnalistik bertajuk “Kilas Pitulas” ini digelar di warung mie ayam dan bakso Dhongso, Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta mulai 26 Mei hingga 2 Juni 2023 mendatang.

Ada 59 karya foto lintas generasi dan media yang dipamerkan dalam pameran ini.

Ketua PFI Yogyakarta Oka Hamied mengatakan pameran ini digelar untuk memberikan kilasan balik terhadap bencana alam yang memakan ribuan korban jiwa tersebut.

Melalui pameran ini diharapkan bisa mengajak kepada masyarakat tentang arti pentingnya mitigasi bencana alam.

“Kilas Pitulas atau Kilas Tujuh Belas, kami jadikan sebagai tema besar dalam menghadirkan kembali kilasan peristiwa gempa 17 tahun lalu yang menelan korban jiwa lebih dari 5700 orang. Banyaknya karya yang berjumlah 59 foto kami selaraskan dengan kekuatan gempa yang berkekuatan M 5,9. Tak hanya kejadian 17 tahun di masa lampau, Kilas Pitulas juga menyuguhkan dokumentasi terkini masyarakat yang sadar akan pentingnya mitigasi bencana," ujarnya, Rabu (24/5/2023).

Baca juga: Arti Gempa Bumi di Bulan Puasa Menurut Primbon Jawa, Ada Pertanda Perselisihan dengan Tetangga

Sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa gempa bumi sudah berulangkali terjadi di Yogyakarta.

DI Yogyakarta setidaknya pernah dilanda 12 kali gempa bumi merusak sebelum bencana 2006, yaitu pada tahun 1840 dan 1859 yang diikuti tsunami, 1867, 1875, 1937, 1943, 1957, 1981, 1992, 2001, 2004.

Gempa bumi berkekuatan M 5,9 pada Sabtu, 27 Mei 2006 menjadi bencana paling mematikan dalam sejarah modern di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Ingatan pendek masyarakat menyebabkan banyak bencana yang pernah terjadi dilupakan, sehingga saat kembali berulang, kerusakan dan korban jiwa kembali berjatuhan.

Di masa depan, gempa tak boleh lagi menjadi bencana mematikan.

Oleh karena itu pengetahuan tentang gempa dan bagaimana mengelolanya perlu dilestarikan.

PFI Yogyakarta melalui pameran foto jurnalistik “Kilas Pitulas” berharap bisa mengajak masyarakat untuk menjaga kesadaran tentang risiko bencana gempa, merawat memori kolektif akan bencana gempa, dan juga melihat ketangguhan masyarakat saat menghadapi bencana gempa.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved