Berita Gunungkidul Hari Ini

Transaksi Jual-beli Sapi di Gunungkidul Anjlok Akibat Penyebaran LSD

Sejak awal Februari sapi yang masuk turun drastis menjadi hanya sekitar 200-an ekor.

Tayang:
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Kondisi Pasar Hewan Munggi, Semanu, Gunungkidul yang sepi belum lama ini. Sepinya pasar disebabkan kekhwatiran pedagang dan pembeli terkait penyebaran LSD. 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) dilaporkan mulai merebak pada ternak di Gunungkidul .

Hal ini pun berdampak pada transaksi jual-beli sapi, terutama di pasar hewan.

Pengelola Pasar Hewan Siyono Harjo, Playen, Isnaning Suindarti mengatakan tingkat jual-beli sapi terbilang anjlok.

"Turunnya sampai 50 persen dari biasanya," kata Isnaning pada Kamis (02/03/2023).

Normalnya ada sekitar 500-an ekor sapi yang masuk ke pasar saat hari pasaran.

Baca juga: Sebanyak 147 Ternak di Gunungkidul Terpapar LSD, 2 Sapi Dilaporkan Mati

Namun sejak awal Februari sapi yang masuk turun drastis menjadi hanya sekitar 200-an ekor.

Menurut Isnaning, kondisi tersebut secara otomatis membuat harga sapi juga ikut turun signifikan.

Para pedagang pun disebutnya mengeluhkan kondisi ini.

"Kondisinya mirip saat terjadi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa waktu lalu," ujarnya.

Isnaning mengatakan penurunan terjadi karena para pedagang hingga pengunjung khawatir akan penyebaran LSD .

Sebab penyebarannya terbilang cepat.

Pihaknya pun sudah melakukan antisipasi lewat pengecekan rutin pada sapi yang masuk ke pasar.

Jika ada sapi terindikasi LSD akan langsung ditangani lalu dipulangkan.

"Kami juga sosialisasikan soal ciri-ciri LSD ke seluruh pedagang," kata Isnaning.

Turunnya penjualan sapi juga diungkapkan oleh Pengelola Pasar Hewan Munggi, Semanu, Bambang Santoso.

Ia menyebut penurunannya hingga 60 persen.

Pasalnya, kebanyakan pedagang sapi datang dari luar Gunungkidul .

Baca juga: 98 Ekor Sapi di Kulon Progo Terjangkit Penyakit LSD, Peternak Diimbau Jaga Kebersihan Kandang 

Harga sapi pun juga turun sekitar Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per ekor dari harga sebelumnya.

"Banyak pedagang dan pembeli enggan masuk pasar karena khawatir ternaknya ikut kena LSD ," kata Bambang.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul mencatat sebanyak 147 kasus LSD pada sapi .

Ratusan kasus ini tercatat hingga Februari lalu, dengan 2 sapi dilaporkan mati.

Kepala DPKH Gunungkidul , Wibawanti Wulandari mengatakan pihaknya kini memperketat pengawasan lalu lintas ternak yang masuk, terutama di pasar hewan.

"Kalau ada temuan langsung kami tangani, didata, lalu dipulangkan namun tetap dalam pemantauan," jelas Wibawanti.( TTribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved