516 Sapi di Sleman Terkonfirmasi Terpapar LSD, 13 Sembuh dan 11 Lainnya Mati
Kepala DP3 Sleman, Ir Suparmono, menyampaikan temuan kasus LSD di Kabupaten Sleman semuanya adalah sapi.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Temuan kasus Lumpy Skin Disease (LSD) di wilayah Kabupaten Sleman semakin tinggi sejak kasus pertama ditemukan pada 23 Desember lalu.
Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman mencatat, jumlah kumulatif kasus LSD saat ini telah mencapai 516 kasus.
Dari ratusan kasus tersebut, 11 sapi dilaporkan mati sedangkan 13 sapi sembuh.
Kepala DP3 Sleman, Ir Suparmono, menyampaikan temuan kasus LSD di Kabupaten Sleman semuanya adalah sapi.
Belum ada laporan kasus kulit infeksius ini yang menyerang pada kerbau.
Dari total 516 kasus yang ditemukan, 485 di antaranya berstatus suspek sedangkan 31 ekor dinyatakan positif.
Hingga saat ini, terdapat 491 ekor sapi sakit, 11 mati dan 1 ekor dipotong paksa. Sedangkan sapi sembuh baru 13 ekor.
"Kesembuhan ini ditetapkan berdasarkan hilangnya gejala klinis. (Seperti) nafsu makan sudah membaik dan benjolan (di kulit hewan) sudah tidak tampak. Sedangkan peneguhan dengan laboratorium belum dilakukan. (Karena) terkait dengan ketersediaan anggaran yang terbatas," kata Suparmono, Senin (27/2/2023).
Data yang diterima Tribun Jogja, kasus LSD tersebar di 17 Kapanewon di Kabupaten Sleman.
Jumlah terbanyak ada di Kapanewon Minggir dengan 96 kasus. Disusul Moyudan 92 kasus.
Kemudian Kapanewon Sleman dan Seyegan masing-masing 86 dan 69 kasus.
Kepala Bidang Peternak, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, drh Nawangwulan, sebelumnya mengungkapkan bahwa kasus LSD memang paling banyak ditemukan di Sleman bagian barat karena jumlah populasi ternak di wilayah tersebut cukup banyak.
Adapun soal temuan kasus yang semakin banyak, menurut dia dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Di antaranya, lalu lintas hewan yang padat, para peternak aktif melaporkan kondisi ternak dan petugas Poskeswan bergerak cepat melakukan tracing maupun pengobatan.
"(Kasus) yang terlaporkan sudah diupayakan untuk diobati oleh kawan-kawan dari Poskeswan. Kelanjutan vaksinasi masih menunggu droping vaksin dari Ditjend PKH," terang dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/vaksinasi-pada-hewan-ternak-di-Cangkringan-25-Juni-2022-lalu.jpg)