Perang Rusia Vs Ukraina

Elon Musk Sebut Pergantian Rezim Ukraina 2014 Adalah Kudeta

Elon Musk mengomentari postingan dan menyebut pergantian rezim di Ukraina pada 2014 adalah kudeta, yang didukung kekuatan barat.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Net
Elon Musk 

TRIBUNJOGJA.COM, MOSKOW - Miliarder pemilik Tesla dan Space-X menggambarkan pergantian pemerintah Ukraina pada 2014 tidak diragukan lagi adalah kudeta.

Viktor Yanukovich, Presiden Ukraina yang terpiih secara demokratis pada 2010, akhirnya disingkirkan setelah terjadi rentetan unjukrasa berpuncak rusuh Euromaidan 2014.

Ukraina akhirnya dipimpin Presiden Petro Poroshenko dan Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk sesudah kerusuhan yang oleh banyak pihak diyakini telah dirancang kekuatan asing.

CEO Twitter Elon Musk lewat cuitannya menyatakan tak meragukan lagi perubahan pemerintahan 2014 di Ukraina adalah kudeta.

Miliarder itu mencuit pemilihan 2010 yang memilih Viktor Yanukovich disebutnya cerdik, tapi yang terjadi selanjutnya memang kudeta.

Baca juga: Daftar Orang Terkaya di Dunia 2022, Elon Musk Teratas, Kekayaan Mark Zuckerberg Susut $29,7 Miliar

Baca juga: Cara Menghadapi Ancaman Inflasi Dunia Agar Enggak Jatuh Miskin Ala Ellon Musk dan Warren Buffett

Tweet tersebut merupakan tanggapan atas postingan dari pengguna @KanekoaTheGreat yang menampilkan halaman depan artikel Profesor Universitas Chicago John Mearsheimer.

Judulnya "Mengapa Krisis Ukraina Adalah Kesalahan Barat." Berasal dari edisi 2014, artikel tersebut – dengan subjudul “Khayalan Liberal yang Memprovokasi Putin” – berpendapat perbesaran NATO dan campur tangan barat dalam politik Ukraina yang harus disalahkan.

Bukan malah agresi Rusia ke Krimea yang malah disalahkan.

Mearsheimer menyatakan untuk Putin, penggulingan ilegal presiden Ukraina yang dipilih secara demokratis dan pro-Rusia - yang dia beri label 'kudeta' - adalah pukulan terakhir," penjelasan yang tampaknya disetujui Elon Musk.

Hasil Pemilu 2010 yang mengangkat Yanukovich sempat dipuji Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa, tapi memburuk ketika Yanukovich membatalkan perjanjian kerjasama ekonomi 2013 dengan Uni Eropa.

Protes kekerasan besar-besaran menyusul, memaksa Yanukovich melarikan diri. Tangan AS dalam kerusuhan itu dikonfirmasi lewat rekaman telepon yang bocor antara Asisten Menlu AS saat itu Victoria Nuland dan Dubes AS untuk Ukraina Geoffrey Pyatt.

Keduanya mendiskusikan rencana menggulingkan Yanukovich dan memasang Arseniy Yatseniuk – yang memang kemudian menjadi Perdana Menteri setelah pemecatan Yanukovich.

Musk juga menyetujui posting sebelumnya oleh Kanekoa yang menampilkan klip video pembawa acara podcast All In David Sacks yang mengklaim AS "merayu" konflik Ukraina.

Video tersebut menyamakan Nuland dengan mantan penasihat medis administrasi Biden Anthony Fauci, yang sering menjadi sasaran kemarahan Elon Musk.

“Sama seperti Fauci seharusnya melindungi kita dari virus dan kemudian mendanai penelitian fungsi, Victoria Nuland seharusnya menjadi kepala diplomat kita sehubungan dengan Rusia dan Eropa Timur,” kata Jeffrey Sack, ekonomi AS dalam tulisan lain.  

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved