PSKK UGM dan BKKBN Gelar Seminar Menyikapi Hasil Sensus Penduduk 2020
Fakultas Geografi dan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Fakultas Geografi dan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk ‘Isu dan Kebijakan Kependudukan Menyongsong Indonesia Emas : Menyikapi Hasil Sensus Penduduk 2020’, Senin (20/2/20233).
Seminar itu digelar di Auditorium Merapi Fakultas Geografi.
Deputi Pengendalian Penduduk BKKBN Dr Bonivasius Prasetya Ichtiarto, SSi, MEng. dan Direktur Kependudukan dan Jaminan Sosial BAPPENAS Mohammad Cholifiani MA Ph.D hadir sebagai narasumber.
Baca juga: Pembuangan Limbah dari Kota Yogyakarta Menuju TPA Piyungan Turun 35 Ton Per Hari
Ada juga Direktur Analisis dan Pengembangan Statistik Badan Pusat Statistik Dr. Ali Said dan Dr. Sukamdi dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan.
Seminar dibuka oleh Dekan Fakultas Geografi UGM, Dr Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc. dan dihadiri Kepala Perwakilan BKKBN DIY Shodiqin SH, MM.
Dalam seminar ini bahasan utama mengenai hasil Long Form SP2020 yang dilaksanakan pada tahun 2022 lalu.
Dari paparan Dr. Ali Said, secara nasional dapat dilihat bahwa Long Form menunjukkan indikator kependudukan semakin membaik menuju penduduk tumbuh seimbang.
Namun, yang perlu diwaspadai adanya disparitas antar wilayah yang menuntut perlakuan atau kebijakan yang tidak bisa disamaratakan untuk semua provinsi.
Bisa saja, dalam satu provinsi antar kabupaten/kota mungkin diperlukan perlakuan dan kebijakan yang berbeda.
“Salah satu contohnya, disparitas Angka Kematian Balita (AKB). Penurunan AKB di Indonesia dihadapkan pada tantangan adanya disparitas AKB yang sangat tinggi antar kabupaten/kota,” ujar Ali.
Dia mengatakan, AKB Under 5 Mortality Rate/U5MR Indonesia hasil Long Form SP2020 sebesar 19,83 per 1.000 kelahiran hidup.
Sementara, Provinsi Papua mempunyai AKB tertinggi (49,04) dan Provinsi DKI Jakarta dengan AKB terendah (12,02).
Di tingkat kabupaten/kota disparitas AKB lebih tinggi lagi.
AKB Balita terendah terdapat di Jakarta Pusat, sebesar 10,67 per 1000 kelahiran hidup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Menyikapi-Hasil-Sensus-Penduduk-2020-Senin-2022023.jpg)