Berita DI Yogyakarta Hari Ini
Pariwisata Jogja Diyakini Lebih Cepat Bangkit Dibandingkan Bali, Ini Alasannya
Tren kedatangan pelancong menuju Kota Pelajar pun mengalami peningkatan signifikan hingga melampaui Bali.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Geliat pariwisata di Yogyakarta benar-benar terasa sejak akhir 2022 hingga awal 2023 ini, selaras dengan sebaran corona virus yang semakin mereda.
Bahkan, para pelaku industri pariwisata pun meyakini, kebangkitan sektor tourism di Yogyakarta cenderung lebih cepat dibandingkan Bali.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI ) DI Yogyakarta, Deddy Pranowo Eryono, berujar, dilihat dari tingkat okupansi hotel dan restoran, terjadi lonjakan signifikan pada permulaan tahun ini.
Benar saja, bulan Februari yang biasanya terbilang low season, sejauh ini malah merangkak naik.
"Ini lumayan, tingkat huniannya bisa 60 persen rata-rata, sampai akhir Februari. Ini menandakan kebijakan pencabutan PPKM itu membangkitkan keinginan masyarakat untuk berwisata," ujarnya.
Baca juga: Dinas Pariwisata Bantul Gelar Fam Trip untuk Dongkrak Kunjungan Wisata
Karena itu, tren kedatangan pelancong menuju Kota Pelajar pun mengalami peningkatan signifikan hingga melampaui Bali, yang notabene merupakan daerah kunjungan pariwisata nomor wahid di tanah air.
Ia mengatakan, hal tersebut disebabkan oleh perbedaan segmentasi yang disasar Bali dan Yogya.
"Bahkan, teman-teman ( PHRI ) di Bali juga heran, ya, Yogya kok bisa seperti itu pertumbuhannya, padahal penerbangan langsung dari luar begeri juga sudah dibuka lebar-lebar sekarang," tandasnya.
"Nah, itu perbedaannya, karena pangsa pasar kita masih domestik. Kekuatan kita ini, kan, ada di pasar nusantara. Sementara di Bali , targetnya sekitar 85 persen wisatawan asing," tambah Deddy.
Menurutnya, belum optimalnya angka kunjungan pelancong dari luar negeri disebabkan oleh ancaman krisis global, yang mulai menguat di beberapa negara Eropa.
Sedangkan bagi penduduk Indonesia, sampai sejauh ini kekhawatiran tersebut belum diraskan, sehingga animo berwisata masih tinggi.
"Kalau kita lihat, orang Indonesia menahan uangnya selain untuk kebutuhan makan dan minum, juga untuk wisata. Karena berwisata supaya tidak stres masih dianggap perlu sekarang ini," cetusnya.
Maka, tidak heran jika tingkat okupansi perhotelan di seantero Yogyakarta mengalami lonjakan signifikan sepanjang Februari ini.
Bahkan, ia mengatakan, torehan tingkat keterisian kamar 60 persen itu, melebihi catatan sebelum pandemi Covid-19 silam.
"Sebelum pandemi, okupansi Februari maksimal 30 persen. Alhamdulillah, bulan ini memang banyak event MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) di Yogya, ya, mulai dari ATF, Rakernas PHRI, sampai dampak Harlah 1 Abad NU," terangnya.
Baca juga: Pariwisata Jogja Makin Menggeliat, Tour Guide Didorong Hadirkan Paket Terobosan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ketua-phri-diy-deddy-pranowo-eryono-30112020.jpg)