Berita Bantul Hari Ini
Kasus DBD di Bantul Capai 34 Kasus pada Awal Tahun 2023
Dinas Kesehatan Bantul mencatat hingga Februari ini sudah ada 34 orang yang terjangkit Demam Berdarah Dengue ( DBD ).
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Musim hujan berpotensi menyebabkan genangan air yang merupakan tempat nyamuk berkembang biak.
Maka dari itu masyarakat diimbau untuk terus menggencarkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan masing-masing.
Dinas Kesehatan Bantul mencatat hingga Februari ini sudah ada 34 orang yang terjangkit Demam Berdarah Dengue ( DBD ).
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul Abednego Dani Nugroho menjelaskan, di bulan Januari kemarin ada 31 kasus DBD di Kabupaten Bantul .
Baca juga: Terdapat 949 Kasus DBD dengan 5 Kasus Meninggal Dunia di Bantul Selama 2022
Dari jumlah tersebut, paling banyak kasusnya ditemukan di kapanewon Banguntapan sebanyak tujuh kasus, lalu disusul Sewon enam kasus, serta Kretek dan Pajangan masing-masing tiga kasus.
Sisanya menyebar ke kapanewon lainnya dengan jumlah satu sampai dua kasus.
“Kemudian untuk bulan Februari ini kami mencatat ada tiga kasus. Dua ditemukan di kapanewon Sedayu dan satu kasus di Sewon. Sehingga sampai kemarin untuk kasus DBD di Bantul ada 34 kasus," ujarnya Rabu (15/2/2023).
Meskipun jumlah kasus DBD pada awal tahun ini cukup tinggi, angka itu masih jauh di bawah jumlah kasus di tahun lalu.
Pada Januari 2022 saja jumlah kasus DBD mencapai 168 kasus, kemudian pada Februari 2022 terdapat 75 kasus.
Abed mengatakan, salah satu penyebab masih tingginya kasus DBD di tahun ini dikarenakan mulai menurunnya perilaku masyarakat untuk rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Selain itu ada pula faktor musim yang mendukung laju perkembangbiakan nyamuk.
Baca juga: Fakta Lengkap Terkait Demam Berdarah Dengue (DBD), Gejala hingga Penanganan
Abednego menekankan bahwa upaya untuk menekan angka kasus DBD adalah dengan menerapkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menerapkan 3M (Menguras, Mengubur, dan Mendaur ulang).
“Apalagi dengan musim hujan yang masih terjadi, akan banyak timbul genangan tempat nyamuk bersarang dan berkembang biak,” ucapnya.
Sebelumnya Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Bantul , Sri Wahyu Joko Santoso kasus DBD masih didominasi oleh wilayah sub urban atau wilayah yang padat penduduk, seperti Kapanewon Banguntapan dan Sewon.
“Pola demografis dan kepadatan penduduk bisa menjadi pemicu. Namun paling penting, adalah meningkatkan PSN dan menjalankan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk terbebas dari DBD ,” tambahnya.( Tribunjogja.com )
Dinkop UKM DIY dan Iwapi Bantul Gelar Pameran Produk Disabilitas di Stadion Sultan Agung |
![]() |
---|
Sejumlah Titik di Bantul Longsor Terdampak Hujan Deras |
![]() |
---|
13 Orang Meninggal Karena Laka Air hingga Pekan Kedua Desember 2024, Ini Pesan Polres Bantul |
![]() |
---|
Festival Inspirasi Pendidikan Kabupaten Bantul 2024, Jadi Sarana Peringati PGRI dan HKN |
![]() |
---|
Natal dan Tahun Baru, Stok Kebutuhan LPG 3 Kg di Bantul Disebut Aman |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.