Perang Rusia Vs Ukraina
Menlu Hongaria Peringatkan Eropa, Rusia Bakal Menangkan Perang
Menlu Hongaria Peter Szijjarto memperingatkan Eropa yang terus memasok senjata ke Ukraina. Tindakan itu akan semakin berbahaya bagi Eropa.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, WARSAWA – Menteri Luar Negeri Hongaria, Peter Szijjaerto memperingatkan Uni Eropa yang terus mengirim senjata ke Ukraina.
Menurutnya, keputusan itu hanya akan memperpanjang konflik dengan Rusia. Hongaria merupakan anggota Uni Eropa.
Berbicara kepada radio Kossuth, Minggu (12/2/2023), Peter Szijjarto mengomentari pernyataan Presiden Parlemen Eropa, Roberta Metsola, yang mendorong pengiriman jet tempur dan senjata jarak jauh ke Kiev.
Menurut Peter Szijjarto, keputusan anggota parlemen Uni Eropa tentang Ukraina umumnya telah menyebabkan kerusakan pada Eropa.
Dia kemudian menuduh badan legislatif UE kredibilitasnya praktis nol. Szijjarto menunjuk skandal korupsi baru-baru ini sebagai bukti parlemen Uni Eropa salah satu organisasi paling korup di dunia.
Dia merujuk penangkapan mantan Wakil Presiden Parlemen Uni Eropa, Eva Kaili, yang dituduh menerima suap dari Qatar sebagai imbalan atas lobi ilegal untuk kepentingan negara Teluk itu.
Baca juga: Ketua Parlemen Hongaria Beberkan Sederet Kesalahan Barat Terhadap Rusia
Baca juga: PM Hongaria Victor Urban Percaya Barat Takkan Mampu Menangkan Ukraina
Baca juga: Menlu Hongaria Kecam Dubes AS Campuri Urusan Internal Negaranya
Szijjarto mencatat di negara-negara barat, retorika perang terdengar jauh lebih keras daripada retorika perdamaian.
Sementara negara-negara di luar gelembung transatlantic cenderung lebih memilih perdamaian daripada konflik yang mematikan.
Menteri Szijjarto mempertanyakan sanksi anti-Rusia versi barat. Dia berargumen mereka telah gagal memaksa Moskow untuk mengakhiri konflik.
Sementara ekonomi Eropa telah menghadapi kesulitan yang luar biasa, dan paket sanksi kesepuluh hanya akan cocok untuk menyebabkan kerusakan lebih lanjut bagi Eropa.
Sejak dimulainya permusuhan skala besar di Ukraina hampir setahun yang lalu, Hongaria, yang sangat bergantung pada energi Rusia, mengkritik sanksi barat terhadap Moskow.
Ia juga menolak mendukung Kiev dengan senjata, atau mengizinkan transfer senjata melintasi perbatasannya dengan Ukraina.
Di Warsawa, Presiden Polandia Andrzej Duda memperingatkan Rusia mungkin memenangkan perang jika pemerintah Kiev tidak disuplai senjata barat dalam beberapa minggu mendatang.
Selama wawancara dengan surat kabar Prancis Le Figaro, Duda ditanya apakah menurutnya Rusia dapat meraih kemenangan di Ukraina.
"Ya, mereka bisa, jika Ukraina tidak segera menerima bantuan," jawab pemimpin Polandia itu.
“Otoritas Kiev tidak memiliki infrastruktur militer modern, tetapi mereka memiliki orang," jelasnya.
“Jika kita tidak mengirim peralatan militer ke Ukraina dalam beberapa minggu mendatang, (Presiden Rusia Vladimir) Putin mungkin menang. Dia bisa menang dan kita tidak tahu di mana dia akan berhenti,” lanjut Duda memperingatkan.
Komentarnya tidak luput dari perhatian juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova.
Lewat tulisan di kanal Telegramnya, Zakharova menunjukkan jika senjata Barat dipasok ke Ukraina dengan tergesa-gesa, mereka tidak akan dapat mengubah hasil konflik.
Pemerintah Kiev dan pendukung asingnya dikutuk untuk kalah. Ia menambahkan pengiriman senjata tidak akan membantu, dan hanya akan memperburuk keadaan.
"Pertobatan atas apa yang telah mereka lakukan adalah satu-satunya jalan keluar bagi barat," tulis Zakharova.
AS, INggris, Kanada, Jerman, Prancis berkomitmen mengirim lusinan tank tempur utama ke Ukraina. Sejauh ini baru Kanada yang mengirimkan satu unit tank Leopard ke Ukraina via Polandia.
Jerman mengatakan sebanyak 88 unit tak Leopard 1 yang sudah tua dan tak pernah digunakan, akan dikirim bersama 14 tank Leopard 2.
Pengiriman tahap pertama diperkirakan akhir Maret. Tapi Berlin menyatakan, tank Leopard 1 butuh perbaikan berat, sehingga paling cepat dikirimkan 2024.
Polandia, yang telah menjadi salah satu pendukung terbesar Ukraina di antara negara-negara Uni Eropa, berjanji untuk memberi tetangganya 14 Leopard 2 dan 60 tank T-72 era Soviet yang dimodifikasi.
Negara-negara barat hingga saat ini masih mengesampingkan pengiriman jet tempur F-16, permintaan baru yang dibuat oleh Presiden Ukraina Vladimir Zelensky.
Pasukan Ukraina di berbagai front saat ini mulai kehabisan amunisi untuk bertempur. Stok tidak dapat diisi kembali sesuai waktu yang diperlukan.
Igor Zhovkva, Wakil Kepala Kantor Presiden Ukraina menyesalkan sekarang pihaknya hampir tidak memiliki amunisi.
“Kami kehabisan amunisi dengan sangat cepat karena pertempuran intensif,” jelasnya, seraya menambahkan pasukan Rusia memiliki lebih banyak daya tembak.
Staf Zelensky juga mencatat Kiev membutuhkan rudal jarak jauh untuk mencabut wilayah Ukraina, bukan untuk mencapai target di dalam Rusia.
Menurut pejabat tersebut, persenjataan jenis ini akan sangat penting untuk melancarkan serangan balasan terhadap pasukan Moskow.
Pekan lalu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov bereaksi terhadap berita pemerintah Inggris sedang mempertimbangkan untuk menyumbangkan beberapa pesawat tempurnya ke Ukraina.
Peskov memperingatkan Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya semakin terlibat dalam konflik tersebut.
“Garis antara keterlibatan langsung dan tidak langsung secara bertahap menghilang,” tegasnya, seraya menambahkan hal ini memicu eskalasi lebih lanjut.(Tribunjogja.com/RussiaToday/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Rusia-Ungkap-Jumlah-Kerugian-Nyawa-Selama-Perang-Lawan-Ukraina.jpg)