Perang Rusia Vs Ukraina

Ukraina Akan Gempur Krimea Gunakan Rudal Harpoon Inggris

Ukraina akan menggempur Semenanjung Krimea jika Inggris mengirimkan rudal antikapal Harpoon ke Kiev.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Wikipedia Common
Rudal antikapal Harpoon diluncurkan dari USS Siloh. Rudal antikapal ini mampu diluncurkan dari udara maupun kapal bergerak dan memiliki jangkauan hingga 150 mil. 

TRIBUNJOGJA.COM, MOSKOW - Militer Ukraina siap menggunakan rudal jarak jauh yang dimiliki Inggris untuk menyerang Krimea jika ini diberikan dalam bantuan militer.

Laporan diteritkan surat kabar Inggris, mengutip sumber-sumber pertahanan Ukraina, Kamis (9/2/2023) waktu London.

Pada Rabu (8/2/2023), Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dalam pidatonya di Parlemen Inggris, meminta negara tersebut untuk memasok jet tempur ke Kiev.

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak juga mengatakan dia telah berbicara dengan Zelensky pada hari yang sama, membicarakan bantuan senjata jarak jauh, pelathan tentara dan pilot Ukraina.

Sumber pertahanan Ukraina mengonfirmasi Kiev akan menggunakan rudal untuk menyerang Krimea menyusul peringatan berulang Zelensky.

Menurut laporan itu, diskusi sedang berlangsung tentang apakah bantuan militer London lebih lanjut ke Kiev harus mencakup rudal anti-kapal Harpoon dan rudal permukaan-ke-udara Storm Shadow.

Baca juga: HIMARS AS Kini Punya Lawan di Ukraina, Namanya Sistem Rudal Penghancur Tor

Baca juga: AS Pasok Senjata Jarak Jauh untuk Ukraina, Begini Respon Rusia

Baca juga: Rusia Siapkan Taktik Jitu Jika Ukraina Terima Rudal Jarak Jauh

Rudal Harpoon memiliki jangkauan hingga 150 mil, dan rudal Storm Shadow dapat menyerang target pada jarak hingga 350 mil.

Rudal Harpoon dikembangkan sejak 1965, ketika Angkatan Laut Amerika Serikat memulai studi rudal kelas 45 kilometer (24 nmi) untuk digunakan melawan kapal selam permukaan.

Nama Harpoon diberikan untuk proyek tersebut. Tenggelamnya kapal perusak Israel Eilat pada 1967 oleh rudal anti-kapal Styx buatan Soviet mengejutkan perwira senior Angkatan Laut AS.

Mereka sampai saat itu tidak memperhitungkan ancaman rudal anti-kapal. Pada 1970 Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Elmo Zumwalt mempercepat pengembangan Harpoon.

Harpoon pertama dikirim pada 1977; pada 2004, Boeing sebagai pabrikan sudah mengirimkan unit ke-7.000.

Harpoon juga telah diadaptasi untuk bisa diangkut di beberapa pesawat, termasuk P-3 Orion, P-8 Poseidon, AV-8B Harrier II, F/A-18 Hornet dan pembom B-52H Angkatan Udara AS.

Rudal Harpoon dibeli banyak negara, termasuk India, Jepang, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Uni Emirat Arab, dan sebagian besar negara NATO.

Rusia meluncurkan operasi militer khusus di Ukraina pada 24 Februari 2022, sebagai tanggapan atas permintaan Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk untuk melindungi mereka dari persekusi Ukraina.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan operasi, yang menargetkan infrastruktur militer Ukraina, bertujuan mendemiliterisasi dan denazifikasi Ukraina dan sepenuhnya membebaskan Donbass.

Negara-negara barat telah memberlakukan banyak sanksi terhadap Rusia dan telah memasok senjata ke Ukraina.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan setiap kargo yang berisi persenjataan untuk Ukraina akan menjadi target yang sah untuk Rusia.

Sebelumnya, pemerintahan Presiden Joe Biden sedang mempertimbangkan memberi Ukraina senjata yang diperlukan untuk menargetkan Semenanjung Krimea.

Area ini dianggap berperan penting bagi kelangsungan operasi Rusia selama operasi militer khusus di Ukraina.

Pemerintah Washington percaya posisi Kiev dalam negosiasi di masa depan akan diperbaiki jika militer Ukraina dapat mengancam kendali Rusia atas Krimea.

Namun demikian, langkah tersebut berarti dapat meningkatkan risiko eskalasi konflik, karena Rusia akan meresponnya secara keras.

Pentagon telah mengirimkan senjata berat ke Ukraina, mulai Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS).

Paket berikutnya mencakup pengiriman kendaraan tempur Bradley serta tank tempur utama M1 Abrams sebanyak 31 unit dari gudang Pentagon.

Sejauh ini, pemerintah AS masih enggan memberikan rudal jarak jauh kepada Ukraina yang dibutuhkan Kiev untuk menyerang Krimea.

Washington masih takut langkah seperti itu dapat memprovokasi Rusia dan memperluas konflik ke Eropa.

Selain Bradley dan tank M1 Abrams, AS mengirimkan kendaraan taktis Stryker selain berbagai artileri dan amunisi dalam jumlah sangat besar.

Pengerahan Strykers akan menandai pertama kalinya Departemen Pertahanan AS menyediakan persenjataan lebih kuat bagi Ukraina.(Tribunjogja.com/Sputniknews/xna)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved