Perang Rusia Vs Ukraina

Putin : Rusia Kembali Hadapi Nazisme Lewat Simbol Tank Jerman di Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Rusia kini nyata-nyata menghadapi kembali Nazisme sebagaimana disimbolkan kehadiran tank Jerman di Ukraina.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
SPUTNIKNEWS
Tentara Merah Soviet mendorong gerobak meriam di kota Leningrad yang terkepung selama 872 hari oleh pasukan Nazi Jerman. 

TRIBUNJOGJA.COM, MOSKOW – Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow, Kamis (2/2/2023) mengatakan, Nazisme dengan kedoknya di Ukraina, sekali lagi mengancam Rusia.

Dikutip Russia Today dan Sputnik, Putin menegaskan untuk itu Moskow sekali lagi harus mengambil sikap melawan kekuatan kolektif barat.

Mengacu konflik yang sedang berlangsung di Ukraina, Putin mengingatkan Rusia sekali lagi diancam tank Jerman (Leopard 2) yang akan segera dikirimkan ke Ukraina guna melawan Rusia.

Putin menyampaikan pernyataan pada pidato peringatan 80 tahun kemenangan Tentara Merah melawan pasukan Nazi Jerman di Stalingrad.

Russian President Vladimir Putin
Russian President Vladimir Putin (Alexey NIKOLSKY / Sputnik / AFP)

Putin menambahkan, kekuatan asing kini menggunakan pengikut Stepan Bandera, tokoh kolaborator Nazi Ukraina yang terkenal pada Perang Dunia II, untuk menyerang Rusia.

Presiden Rusia memperingatkan mereka yang berusaha menyeret Jerman ke dalam perang baru dan berharap meraih kemenangan di medan perang, tampaknya hari ini gagal memahami Rusia.

Baca juga: Bagaimana Leningrad Selamat dari Keganasan Nazi Jerman? BAGIAN 1

Baca juga: Vladimir Putin : Tentara Merah Bebaskan Kamp Auschwitz-Birkenau dari Nazi Jerman

Baca juga: Vladimir Putin : Kita Akan Memecahkan Rudal Patriot Seperti Kacang

Pertempuran Stalingrad adalah pertempuran terbesar dalam Perang Dunia II, meletakkan dasar bagi kemenangan Tentara Merah atas pasukan Nazi Jerman.

Setelah Stalingrad dibebaskan dari kepungan pasukan Hitler, pasukan Soviet berbalik mampu menyapu Eropa timur hingga kemudian menghancurkan Hitler di Berlin pada Mei 1945.

Pidato Putin dan acara peringatan 80 tahun pertempuran Stalingrad digelar di gedung konser Moskow.

Kekalahan di Stalingrad mengejutkan seluruh Nazi Jerman, mengguncang posisi kebijakan luar negerinya dan merusak kepercayaan di antara negara-negara satelitnya saat itu.

Adolf Hitler dan pasukan Jerman yang sangat besar dan terlatih, yakin Uni Soviet akan kehilangan kota itu dalam hitungan hari. Dugaan mereka meleset, dan berbalik kehancuran.

Tank Leopard dioperasikan Angkatan Bersenjata Jerman atau Bundeswehr. Menghadapi perubahan peta politik dan konflik terkini, Jerman mereformasi militernya dari pasif menjadi lebih agresif secara anggaran maupun kemampuan persenjataannya.
Tank Leopard dioperasikan Angkatan Bersenjata Jerman atau Bundeswehr. Menghadapi perubahan peta politik dan konflik terkini, Jerman mereformasi militernya dari pasif menjadi lebih agresif secara anggaran maupun kemampuan persenjataannya. (Bundeswehr)

Operasi Uranus

Setiap 2 Februari, Rusia merayakan Hari Kehormatan Militer. Tepat 80 tahun yang lalu pada hari ini, Tentara Merah memenangkan pertarungan paling berdarah dalam sejarah manusia, Pertempuran Stalingrad.

Kemenangan Uni Soviet itu merupakan buah dari sukses operasi serangan balik Uranus.

Pagi-pagi sekali, tepat 80 tahun yang lalu, para prajurit Angkatan Darat Rumania ke-3 yang jadi sekutu Nazi Jerman, dibangunkan.

Mereka ada di parit-parit dingin di tepi kanan Sungai Don. Deru artileri yang menghantam membangunkan mereka dari tidur.

Menjelang makan siang, Komandan Petre Dumitrescu melapor kepada pimpinan Grup Angkatan Darat Selatan, tidak mungkin mencegah musuh menyeberangi sungai.

Sehari kemudian, kelompoknya dihancurkan oleh serangan tank besar-besaran. Dua minggu kemudian, praktis mereka sudah tidak ada lagi.

Pada saat itu, pasukan Soviet dari Front Barat Daya di bawah komando Nikolai Vatutin memulai bagian mereka dari Operasi Uranus.

Serangan itu menghasilkan kekalahan strategis besar pertama bagi negara-negara poros – awal dari akhir.

Bagi Sekutu, pertempuran Stalingrad akan lama berdiri sebagai simbol kekuatan militer dan kejeniusan militer Rusia.

Apa kesalahan utama dari komando Jerman? Apa metode perang revolusioner yang digunakan para jenderal Soviet selama pertempuran Stalingrad?

Musim gugur 1942 dianggap sebagai titik balik dalam Perang Dunia II. Serangan kekuatan Axis yang tampaknya tanpa henti dan perebutan wilayah dan sumber daya baru mereka akhirnya diakhiri di semua teater.

Pada Desember, keunggulan strategis telah beralih ke pihak Sekutu. Setelah ini, hanya mereka yang akan mendikte jalannya perang, dan Jerman serta Jepang hanya bisa bereaksi.

Inggris mengklaim kemenangan di palagan Mesir dekat El Alamein pada 24 Oktober, memicu segalanya.

Saat itu Bernard Montgomery berhasil mengalahkan Rubah Gurun Jenderal Erwin Rommel dan Korps Afrikanya, yang kelelahan karena kekurangan pasokan.

Hal ini mengakhiri upaya Jerman untuk menginvasi Mesir dan memblokir Terusan Suez, yang akan memperumit situasi Inggris secara signifikan.

Sebab negara pulau itu sangat bergantung pada makanan dan sumber daya yang dipasok oleh koloninya.

Dua minggu kemudian, Inggris di Afrika Utara sudah didukung Amerika di barat, yang sedang melakukan Operasi Obor.

Ini operasi pendaratan pasukan skala besar di Maroko dan Aljazair, yang secara resmi berada di bawah kendali pemerintah Prancis pro-Hitler Vichy.

Terlepas dari perlawanan keras kepala Rommel di Tunisia, hasil kampanye militer itu sudah bisa dipastikan.

Keruntuhan front Afrika Jerman, dianggap sangat berpengaruh pada posisi dan pengepungan pasukan Nazi di Stalingrad. Itulah titik balik yang diklaim Sekutu.

Sebaliknya, Soviet menganggap kemenangan di Stalingrad memantik keunggulan balik Tentara Merah menghadapi pasukan Nazi Jerman.(Tribunjogja.com/RussiaToday/xna)

 

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved