Perang Suriah

Provinsi Idlib Suriah Segera Kembali ke Kendali Pasukan Damaskus

Gubernur Idlib menyatakan provinsi di Suriah itu akan segera kembali ke kendali pemerintah Damaskus dari tangan kelompok teroris proksi asing.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
AFP/OMAR HAJ KADOUR
Gambar yang diambil pada 1 Februari 2020 menunjukkan kendaraan militer Turki di pos observasi kota Saraqeb, timur Idlib, Suriah, di mana jalurnya mengarah ke persimpangan dekat kota tetangga Aleppo. 

TRIBUNJOGJA.COM, DAMASKUS - Kembalinya Kegubernuran Idlib di Suriah ke kendali pemerintah Damaskus kian dekat.

Klaim disampaikan Gubernur Idlib, Tha'ir Salhab kepada Sputnik pada Kamis (19/1/2023). Provinsi Idlib saat ini jadi lokasi penampungan kelompok bersenjata proksi asing.

Sebagian besar Idlib, termasuk pusat kota kegubernuran, serta bagian dari pedesaan Lattakia utara terdekat, pedesaan Hama barat laut, dan pedesaan Aleppo barat saat ini diduduki berbagai kelompok.

Ada Hay'at Tahrir al-Sham (HTS) dan beberapa jaringan al-Qaeda lainnya serta kelompok teroris yang berafiliasi ke Turki dan negara Arab serta barat.

Militer Turki mempertahankan kehadiran besar di wilayah tersebut, yang dikenal sebagai Greater Idlib.

“Segera, kendali militan atas desa, kota, dan kota kecil di mana mereka bercokol di pedesaan utara dan barat laut gubernuran akan berakhir,” kata Salhab kepada kantor berita Rusia.

Baca juga: Pentolan Jaringan Al Qaeda Tolak Penyelesaian Damai Konflik Suriah

Baca juga: Turki Setuju Tarik Pasukan dari Suriah

Baca juga: Pasukan Rusia dan Suriah Hancurkan Pos-pos Teroris di Greater Idlib

Gubernur mengatakan dia berhubungan dengan banyak warga sipil di Idlib yang menuntut masuknya militer Suriah dan kembalinya institusi pemerintah.

HTS dan sekutunya terus angkat senjata terhadap Damaskus, menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia dan menjarah bantuan kemanusiaan internasional yang dikirim ke wilayah tersebut.

“Bukan rahasia lagi negara Suriah, berkoordinasi dengan sekutu Rusianya, tidak melakukan upaya politik untuk memastikan kembalinya semua tanah kegubernuran Idlib ke keadaan normalnya,” katanya.

“Juga menyelamatkan ribuan keluarga yang saat ini berada di daerah yang dikuasai militan,” imbuh Salhab.

Pernyataan Shalhab muncul di tengah desas-desus tentang penarikan pasukan Turki dari beberapa bagian Idlib Besar sejalan kesepakatan gencatan senjata yang dicapai di Moskow pada 5 Maret 2020.

Menurut rumor yang beredar di sumber berita Suriah, Ankara akan menarik militernya ke belakang jalan raya M4 untuk memfasilitasi proses pemulihan hubungan yang disponsori Rusia dengan Damaskus.

Jalan raya strategis ini menghubungkan kota pelabuhan Lattakia dengan kota Aleppo, pusat industri Suriah.

Pemandangan dari udara menunjukkan kota Ariha di pedesaan selatan Idlib. Beberapa minggu ke dalam gencatan senjata yang rapuh yang mulai berlaku ketika wabah koronavirus yang baru berubah menjadi pandemi
Pemandangan dari udara menunjukkan kota Ariha di pedesaan selatan Idlib. Beberapa minggu ke dalam gencatan senjata yang rapuh yang mulai berlaku ketika wabah koronavirus yang baru berubah menjadi pandemi (AAREF WATAD / AFP)

Awal pekan ini, seorang pejabat keamanan Turki mengatakan kepada BBC Turki Ankara siap untuk membahas semua masalah dengan Damaskus, termasuk penarikan sebagian atau seluruhnya dari Suriah.

Situasi di Greater Idlib paling tidak stabil. Dalam beberapa minggu terakhir, HTS dan sekutunya menyerang beberapa posisi militer Suriah di sekitar Idlib Raya dalam upaya untuk membangkitkan ketegangan antara Ankara dan Damaskus.

Penarikan Turki dari Greater Idlib akan membuka jalan bagi operasi militer baru melawan HTS dan sekutunya, dan memastikan keamanan jalan raya M4.

Perkembangan lain, 12 tentara Suriah diduga tewas atau terluka ketika militan Hay'at Tahrir al-Sham (HTS) yang berafiliasi dengan al-Qaeda menyerbu posisi Tentara Arab Suriah (SAA) di dekat kota Urum al-Kubrah di pedesaan barat Aleppo.

Para militan melancarkan serangan dari posisi mereka di wilayah Idlib Raya, yang mencakup bagian-bagian dari pedesaan Aleppo barat.

Terlepas dari kehadiran pasukan Turki yang besar, HTS adalah penguasa de-facto di wilayah tersebut.

Foto-foto yang dirilis oleh jaringan media resmi HTS, Amjad, menunjukkan militan menyerang posisi tersebut di tengah kabut tebal di pagi hari. Jenazah tiga prajurit SAA bisa dilihat di beberapa foto.

Ini adalah serangan keempat yang dilakukan oleh militan HTS bulan ini. Pada 10 Januari, para militan menggerebek posisi SAA di dekat kota Bsartun di pedesaan barat Aleppo.

Tiga militan dan tentara tewas dalam serangan itu. Keesokan harinya, 11 Januari, para militan menyerbu posisi lain di dekat kota Kawkabeh di pedesaan Idlib selatan.

Tujuh tentara diduga tewas di sana. Kemudian pada 14 Januari, sebuah posisi di dekat desa Nahshabba di pedesaan Lattakia utara digerebek. Tiga tentara tewas, saat itu.

HTS dan sekutunya mengintensifkan serangannya pada Desember ketika upaya Rusia untuk memulihkan hubungan antara Ankara dan Damaskus mulai mendapatkan momentum.

Sehari sebelumnya, pada 18 Januari, SAA menangkis serangan oleh Ansar al-Tawhid yang berafiliasi dengan al-Qaeda yang menargetkan beberapa posisinya di pedesaan Idlib selatan.

Sedikitnya 12 petempur kelompok bersenjata itu tewas atau terluka dalam serangan yang gagal itu.

Serangan baru-baru ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata di Idlib Raya, yang ditengahi oleh Rusia dan Turki lebih dari dua tahun lalu.

Sejauh ini, tanggapan SAA terbatas pada serangan artileri ke posisi HTS dan satu serangan yang menargetkan posisi Firqat al-Ghuraba yang berafiliasi dengan al-Qaeda.(Tribunjogja.com/Southfront.org/xna)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved