Politik Global
AS dan Kekuatan Anglo Saxon Diduga Kuat Sponsori ISIS di Afghanistan
Utusan Khusus Rusia untuk Afghanistan menyebut AS dan kekuatan Anglo Saxon mensponsori ISIS di Afghanistan guna mendestabilisasi negeri Taliban itu.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
“Ada satu paspor dari Inggris dan satu dari negara lain di Eropa”, kata sumber itu, dengan alasan orang-orang itu ditangkap di perbatasan Hairatan.
Orang dalam Taliban itu menambahkan keduanya memberi tahu penjaga perbatasan mereka memiliki ikatan keluarga di Jalalabad, ibu kota provinsi Nangarhar timur.
Pada saat yang sama, sumber tersebut berpendapat, orang-orang itu berjuang untuk menjelaskan barang bawaan mereka.
Termasuk konon rompi tempur yang digambarkan sebagai rompi bunuh diri tanpa bahan peledak.
Saat ditanyai, tersangka rekrutan Daesh dilaporkan menegaskan rompi itu hanya hal-hal yang menurut mereka menarik.
Ditanya tentang bagaimana orang-orang itu akan diperlakukan, sumber tersebut menekankan para mujahidin sangat menyadari siapa Daesh dan bekerja keras dalam masalah ini.
Ia mengaku tidak memiliki informasi langsung tentang masa depan para tersangka, tetapi kebijakan umum Taliban untuk tahanan Daesh sudah jelas.
“Aturan dari pemimpin kita adalah menghabisi mereka saja, jangan biarkan mereka melakukan apapun. Tidak ada ampun,” kata sumber itu.
Pada November 2022, Perwakilan Khusus PBB Deborah Lyons mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB afiliasi Daesh di Afghanistan, yang dikenal sebagai Daesh Khorasan (Daesh-K), hadir di setiap provinsi di negara Asia Selatan.
Menurutnya, Daesh-K, yang dipandang sebagai musuh ideologis Taliban, telah melakukan beberapa serangan bunuh diri berskala besar di Kabul dan kota-kota besar lainnya sejak Taliban berkuasa.
Saat itu, Taliban melancarkan serangan terhadap pasukan pemerintah Afghanistan, memasuki ibu kota Kabul tanpa tembakan pada 15 Agustus 2021, dan mengumumkan akhir perang.
Minggu-minggu berikutnya terjadi evakuasi massal warga dari negara-negara barat dan warga Afghanistan yang bekerja sama dengan mereka dari Bandara Kabul.
Pada malam 31 Agustus, militer AS akhirnya meninggalkan Bandara Kabul, mengakhiri kehadiran militer Amerika selama hampir 20 tahun di Afghanistan.
Pada awal September, pemerintah sementara Afghanistan diumumkan, diketuai Mohammad Hasan Akhund.
Ia mengepalai Kementerian Luar Negeri pada masa pemerintahan pertama Taliban dan berada di bawah sanksi PBB sejak 2001.(Tribunjogja.com/RussiaToday/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/wanita-afghanistan-demonstrasi-anti-pakistan-di-dekat-kedutaan-pakistan-di-kabul-7-september-2021.jpg)