Politik Global
AS dan Kekuatan Anglo Saxon Diduga Kuat Sponsori ISIS di Afghanistan
Utusan Khusus Rusia untuk Afghanistan menyebut AS dan kekuatan Anglo Saxon mensponsori ISIS di Afghanistan guna mendestabilisasi negeri Taliban itu.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, KABUL – Utusan Khusus Rusia untuk Afghanistan, Zamir Kabulov menyebut ada bukti AS sedang menjalin hubungan dengan rival Taliban Afghanistan dan diam-diam mensponsori Islamic State di Khorasan (Afghanistan).
"Ya, ada data seperti itu, mereka (otoritas AS) melakukannya bukan untuk kebaikan, tetapi untuk kerugian, karena mereka benar-benar ingin membalas kekalahan militer-politik mereka yang memalukan di Afghanistan,” kata Kabulov dikutip Russia Today, Jumat (20/1/2022).
Media itu tidak menyertakan tanggapan atau konfirmasi dari pihak AS, dan pemerintah Taliban Afghanistan. Kabulov juga tidak menjelaskan rincian bukti-bukti yang dia maksud.
Menurut Kabulov, elite AS ingin melakukan pembalasan, dan melakukan segalanya agar perdamaian tercapai di negeri yang telah lama menderita ini.
“Hal lebih buruknya, selain kontak dengan oposisi bersenjata di Afghanistan, Anglo-Saxon diam-diam mensponsori Daesh," kata Kabulov kepada penyiar Rusia.
Baca juga: Bom Guncang Sekolah di Afghanistan, 19 Siswa Meninggal Dunia
Baca juga: Laporan Utusan PBB untuk Afghanistan : Serangan ISIS K di Afghanistan Semakin Massif
Baca juga: Taliban dan Kelompok Pemberontak NRF Terlibat Baku Tembak di Provinsi Panjshir
Sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada pertengahan Agustus, kelompok ultra radikal Islam di Afghanistan melakukan beberapa serangan teror di seluruh negeri.
Termasuk di Bandara Kabul pada Agustus yang menewaskan lebih dari 180 orang, dan di sebuah masjid Syiah di Kunduz pada Oktober. yang mengakibatkan lebih dari 150 orang tewas.
AS menarik diri dari Afghanistan dalam jangka waktu yang ditentukan, tetapi melakukannya jauh lebih cepat, memicu kekacauan di Kabul.
Ribuan warga Afghanistan mati-matian berusaha keluar dari negara itu, dan 13 tentara Amerika tewas dalam pemboman yang dilakukan anasir Islamic State Afghanistan.
Pemerintahan Taliban belum diakui masyarakat internasional, meskipun beberapa negara, termasuk Rusia dan China, mengatur pertemuan diplomatik dengan perwakilan gerakan tersebut.
Pertemuan itu dimaksudkan untuk memperbaiki situasi kemanusiaan di negara sepeninggal pasukan AS.
Menurut PBB, serangan Daesh telah mengakibatkan sekitar 700 kematian sejak Taliban berkuasa di Afghanistan.
Merembesnya unsur-unsur ISIS/ISIL atau Daesh ke Afghanistan terbukti pada pertengah bulan ini ketika dua tersangka rekrutan Daesh ditahan apparat Taliban di perbatasan utara Afghanistan.
Surat kabar itu mengutip sumber Taliban yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan keduanya membawa uang tunai lebih dari £10.000 ($13.000).
Juga seragam militer, dan kacamata penglihatan malam di tas mereka. Mereka ditangkap setelah mendapat informasi dari Uzbekistan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/wanita-afghanistan-demonstrasi-anti-pakistan-di-dekat-kedutaan-pakistan-di-kabul-7-september-2021.jpg)