Perang Rusia Vs Ukraina

Terlibat Semakin Dalam, NATO Janji Kirim Senjata Lebih Berat ke Ukraina

Sekjen NATO Jens Stoltenberg menjanjikan negara NATO akan mengirim lebih banyak senjata berat ke Ukraina guna melawan Rusia.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Bundeswehr
Tank Leopard dioperasikan Angkatan Bersenjata Jerman atau Bundeswehr. Menghadapi perubahan peta politik dan konflik terkini, Jerman mereformasi militernya dari pasif menjadi lebih agresif secara anggaran maupun kemampuan persenjataannya. 

Meskipun Stoltenberg menegaskan dia tidak menginginkan perang besar-besaran antara NATO dan Rusia, Moskow telah berulang kali memperingatkan barat.

Tank tempur ringan AMX-10 buatan Prancis ini aktif di berbagai medan tempur sejak tahun 1980. Prancis menjanjikan bantuan tank tempur ini ke Ukraina. Indonesia juga masuk daftar pengguna tank AMX-10.
Tank tempur ringan AMX-10 buatan Prancis ini aktif di berbagai medan tempur sejak tahun 1980. Prancis menjanjikan bantuan tank tempur ini ke Ukraina. Indonesia juga masuk daftar pengguna tank AMX-10. (Wikipedia Common)

Pengiriman senjata yang berkelanjutan hanya akan memperpanjang konflik di Ukraina, sementara membuat kekuatan barat menjadi partisipan de-facto.

Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan konflik tersebut sebagai konflik antara Rusia dan seluruh mesin militer barat.

Tapi ia mengatakan pada Sabtu kemajuan operasi militer Moskow positif, dengan situasi medan perang berkembang masih dalam kendali Kementerian Pertahanan dan rencana Kepala Staf Gabungan.

Sementara Moskow memandang deklarasi kerjasama Uni Eropa dan NATO adalah bukti lebih lanjut kini Uni Eropa berada di bawah jempol blok militer yang dipimpin AS.

Pandangan ini dikemukakan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pekan lalu.

Dalam sebuah pernyataan, Zakharova mengatakan dokumen NATO-UE mengkonfirmasi Uni Eropa telah berfungsi sebagai alat untuk menegakkan kepentingan AS secara paksa.

Dia mengatakan dengan kedok memperkuat ikatan transatlantic, deklarasi tersebut mempromosikan ketentuan konsep strategis NATO, yang diadopsi pada Juni 2022.

Menurut diplomat itu, deklarasi tersebut memandang keamanan transatlantik lewat sudut pandang Rusia sebagai ancaman.

Karena itu blok militer itu akan meningkatkan pasokan senjata dan perangkat keras militer ke rezim Kiev, meningkatkan mobilitas militer di teater perang Eropa, dan perluasan NATO lebih lanjut.

Ketentuan dokumen tersebut pada dasarnya memformalkan sifat sekunder kebijakan pertahanan UE dengan kebijakan NATO sambil membatalkan klaim otonomi UE di bidang ini.

Zakharova juga menggambarkan dokumen itu sebagai pidato lain untuk filosofi superioritas barat.

“Ini secara blak-blakan menyatakan bahwa NATO dan UE akan menggunakan semua cara politik, ekonomi dan militer demi kepentingan satu miliar warga negara kita,” kata Zakharova.

Terhadap latar belakang ini, motif Washington sudah jelas, kata juru bicara itu. AS ingin menyeret Uni Eropa ke dalam persaingan global dan, jika berhasil, orang Eropa akan menghadapi nasib yang tidak menyenangkan sebagai pengikut Amerika.

Ini berarti UE menurut Zakharova akan kehilangan posisi dalam politik dan ekonomi global, dengan setiap langkah menjadi semakin bergantung pada Washington.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved