Berita DI Yogyakarta Hari Ini
Anggota DPRD DIY Tolak Gagasan Sistem Pemilu Proporsional Tertutup
Dengan menerapkan sistem Pemilu proporsional terbuka, asas pemilu luber dan jurdil atau langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil akan tercipta.
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Anggota DPRD DIY dari Partai Solidaritas Indonesia, Stevanus C Handoko menyatakan penolakannya terhadap usulan penerapan sistem Pemilu proporsional tertutup di Indonesia.
Gagasan itu dapat menjadi kemunduran dalam demokrasi Indonesia.
Sebagai seorang politikus muda di Yogyakarta , mendengar gagasan sistem pemilu proporsional tertutup membuat bayangan orde baru dengan politik oligarki menyeruak.
“Pelaksanaan Pemilu dengan sistem proporsional terbuka selama ini sudah berjalan dengan baik dan mencerminkan kedaulatan rakyat karena dapat bebas memilih calon anggota legislatif secara terbuka,” ujar Stevanus, Jumat (13/1/2023).
Baca juga: Penerapan Skema Pemilu Terus Berubah Dinilai Bisa Munculkan Konflik
Menurutnya, dengan menerapkan sistem Pemilu proporsional terbuka, asas pemilu luber dan jurdil atau langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil akan tercipta.
Sistem tersebut dapat menciptakan iklim demokrasi yang diharapkan masyarakat yakni demokrasi dengan prinsip dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
“Sistem Pemilu proporsional tertutup tidak membuka kesempatan kepada generasi muda untuk menentukan pilihan secara transparan bahkan tidak terbuka secara jelas peluang untuk dipilih menjadi anggota legislatif”, ujarnya
“Dan saya rasa, anak muda seperti saya tidak akan pernah mendapat peluang menjadi anggota DPRD ataupun DPR RI. Ruang politik anak muda akan terbelenggu oleh kekuasaan segelintir orang saja”, sambungnya.
Dia melanjutkan, gagasan sistem Pemilu proporsional tertutup menjadi sebuah kemunduran dalam politik di Indonesia.
Baca juga: Muncul Gagasan Sistem Pemilu Proporsional Tertutup, Ini Respons Sejumlah Politikus di Jogja
Jika sekadar mencoblos logo dan nomor urut partai, rakyat seperti memilih kucing dalam karung.
Pemilih tidak pernah tahu siapa anggota legislatif yang akan mewakili suara aspirasinya.
Kedaulatan rakyat seperti terbelenggu suara kuasa dari partai politik.
“Sistem pemilu proporsional tertutup dimana masyarakat pemilih hanya mencoblos logo partai tanpa tahu siapa yang akan mewakili suaranya akan membelenggu kebebasan berdemokrasi anak muda untuk menentukan pilihan kepada siapa mereka menaruh pilihan dalam memperjuangkan harapan mereka menuju Indonesia Emas yang Maju,” ungkapnya. ( Tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/nyoblos-berhadiah-ratusan-juta-dari-lomba-selfie-hingga-sayembara-tps.jpg)