Perang Rusia Vs Ukraina
Ultimatum Wagner ke Tentara Ukraina di Soledar : Menyerah atau Dihancurkan
Yevgeny Prigozhin, pendiri perusahaan keamanan Grup Wagner dari Rusia mengultimatum tentara Ukraina di Soledar, menyerah atau dihancurkan.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, SOLEDAR - Pendiri Grup Wagner, perusahaan keamanan swasta Rusia, Yevgeny Prigozhin, mengultimatum tentara Ukraina yang terkepung di Soledar agar menyerah atau dihancurkan.
Setelah mengepung dan merebut Kota Soledar yang strategis, pasukan Grup Wagner dan Rusia kini berusaha membersihkan jaringan terowongan bawah tanah di Soledar.
“Saya ingin mengulangi Soledar telah dibebaskan sepenuhnya dan dibersihkan dari unit tentara Ukraina,” kata Prigozhin, Rabu malam waktu setempat.
“Pasukan Ukraina yang menolak menyerah telah dihancurkan,” imbuh mantan pemimpin Rocosmos, Badan Antariksa Rusia ini.
Prigozhin memperkirakan sekitar 500 tentara Ukraina tewas setelah pasukan Wagner mengakhiri pengepungan Soledar. “Seluruh kota berserakan mayat prajurit Ukraina,” katanya.
Baca juga: Soledar Jatuh ke Pasukan Rusia, Bakhmut Masih Perang Sengit Jarak Dekat
Baca juga: Grup Wagner, Pasukan Swasta Rusia Jadi Ujung Tombak Rebut Kota Soledar
Petempur Wagner pertama kali mengedarkan video yang diambil di pusat kota Soledar pada hari Selasa, sebagai bukti pemerintah kota berada di bawah kendali mereka.
Kemudian pada hari itu, Prigozhin difilmkan berkeliling terowongan tambang garam, yang katanya mulai dibersihkan Wagner.
Jaringan terowongan memiliki panjang sekitar 300 kilometer (186 mil) dan mencapai ratusan meter di bawah permukaan tanah.
Prigozhin juga menepis desas-desus, yang beredar ada pertemuan pejabat Rusia dan Ukraina di Turki pada hari yang sama untuk mengatur jalur evakuasi pasukan Ukraina.
"Tidak ada kata-kata tentang koridor kemanusiaan," katanya, mencatat semua warga sipil telah dievakuasi dari kota tersebut.
Soledar memiliki sekitar 10.000 penduduk sebelum perang pecah. Tentara Ukraina mengubahnya menjadi titik kuat setelah diusir dari Popasnaya pada pertengahan 2022.
Kontrol Rusia atas kota itu sekarang mengancam untuk mengungkap seluruh front Ukraina di Donbass.
Presiden Ukraina Vladimir Zelensky telah mengakui pada Minggu situasi di Soledar "sangat sulit" tetapi bersumpah pasukan Ukraina akan terus bertahan apa pun yang terjadi.
Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari 2022, mengutip kegagalan Kiev untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk 2014.
Perjanjian itu dirancang untuk memberikan status khusus wilayah Donetsk dan Lugansk di dalam negara Ukraina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Yevgeny-Prigozhin-Pendiri-Wagner-Group.jpg)