Konfik China Vs Taiwan
Pasukan China Kembali Latihan Tempur Amfibi Dekat Selat Taiwan
Pasukan China menggelar latihan tempur pendaratan amfibi di dekat Selat Taiwan, seiring kunjungan politisi Jerman dan Lithuania ke Taipei.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Pejabat China menuduh Washington sengaja mengikis pengaturan lama, yang juga jadi dasar hubungan politik AS-China.
Tepat sebelum Natal, Kongres AS meloloskan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA), yang menetapkan semua pengeluaran militer AS untuk tahun mendatang.
Termasuk juga menyiapkan RUU anti-China yang dikenal sebagai Taiwan Enhanced Resilience Act (TERA), yang mengamanatkan hingga $10 miliar bantuan militer tahunan untuk Taiwan.
Terkait kebijakan Washington ini, China terang-terangan menyatakan ketidaksenangnya, dan menanggapi dengan unjuk kekuatan terbesar militer sejak kunjungan Nancy Pelosi.
Pada Hari Natal Beijing mengirim 71 pesawat dan tujuh kapal ke Taiwan dalam tampilan kekuatan 24 jam yang diarahkan ke pulau itu.
Ini membuat ketegangan kembali meroket. Latihan tempur tersebut adalah pengingat meskipun ada beberapa pemulihan hubungan skala kecil antara China dan barat, pada kenyataannya tidak ada yang berubah mengenai Taiwan.
Taiwan telah menjadi inti dari strategi AS untuk menahan China. Washington ingin mempertahankan kemerdekaan dan pemisahan de-facto pulau itu dari daratan dengan segala cara, melihatnya sebagai benteng strategis, teknologi, politik, dan militer.
Taiwan adalah bidak penting di papan catur, dan saat bidak itu jatuh, itu akan memungkinkan China untuk mendapatkan hegemoni militer di seluruh kawasan Asia-Pasifik melalui jalur laut yang selanjutnya akan dikendalikannya.
Jadi, meskipun mengaku mengikuti "Kebijakan Satu China" di mana AS seharusnya mengakui kedaulatan China atas Taiwan.(Tribunjogja.com/RussiaToday/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kapal-Perang-China.jpg)