Perang Rusia Vs Ukraina

Ukraina Tolak Penghentian Permusuhan Usulan Vladimir Putin

Presiden Rusia Vladimir Putin menyerukan penghentian permusuhan selama perayaan Natal ala Kristen Ortodoks pada 6-7 Januari 2023.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Sputniknews
Kepala Staf Umum Rusia Jenderal Valery Gerasimov (kiri) mendampingi Presiden Vladimir Putin bersama Menteri Pertahanan Sergey Shoigu. Gerasimov menjadi pejabat militer tertinggi Rusia yang memimpin semua kesatuan tempur negara itu. 

TRIBUNJOGJA.COM, KIEV – Pemerintah Ukraina tidak tertarik penghentian permusuhan sementara yang diusulkan Presiden Rusia Vladimir Putin selama perayaan Nata ala Kristen Ortodoks, 6-7 Januari 2023.

“Mungkin ada gencatan senjata sementara hanya ketika Rusia meninggalkan wilayah pendudukan," tulis Mikhail Podoliak, penasihat Zelensky, di Twitter, dikutip Russia Today, Jumat (6/1/2023)

“Simpan kemunafikan untuk dirimu sendiri,” tambahnya. Podoliak juga mencela Gereja Ortodoks Rusia sebagai penyebar propaganda perang yang menyerukan genosida terhadap warga Ukraina.

Ia menggambarkan pernyataannya tentang gencatan senjata Natal sebagai jebakan sinis dan elemen propaganda.

“Gencatan senjata? Kebohongan dan kemunafikan. Kami akan menggigit Anda dalam kesunyian malam Ukraina,” tulis Alexey Danilov, Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina.

“Gencatan senjata yang diusulkan tidak dapat dan tidak boleh dianggap serius,” cuit Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmitry Kuleba.

Baca juga: Polandia Protes Glorifikasi Stepan Bandera oleh Parlemen Ukraina

Baca juga: Sekjen NATO : Dukungan Militer Barat Adalah Cara Mengakhiri Perang Ukraina

Baca juga: Aleksandr Dugin : Konflik Ukraina Perang Multipolar Pertama di Dunia

Sebagian besar gereja Ortodoks, termasuk yang ada di Rusia dan Ukraina, menggunakan beberapa versi kalender Julian untuk kebaktian liturgi, sehingga Hari Natal jatuh pada 7 Januari 2023 menurut kalender Gregorian.

Yang Mulia Patriark Kirill dari Moskow dan Seluruh Rusia menyerukan gencatan senjata selama 36 jam mulai Jumat siang, sehingga umat Ortodoks dapat menghadiri kebaktian.

Mengutip permintaan patriark, Presiden Vladimir Putin telah memerintahkan militer Rusia untuk mematuhi gencatan senjata.

“Dilihat dari fakta banyak warga yang mempraktikkan agama Ortodoks tinggal di daerah yang diperangi, kami menyerukan kepada pihak Ukraina untuk mengumumkan penghentian permusuhan dan memberi mereka kesempatan untuk menghadiri kebaktian pada Malam Natal dan Hari Natal,” kata Kremlin dalam sebuah pernyataan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut baik pengumuman Rusia tersebut.

“Kemungkinan para pihak menunjukkan rasa hormat dan menghentikan permusuhan selama masa suci ini selalu disambut baik oleh sekjen,” kata juru bicaranya, Stephane Dujarric.

Menurut Kremlin, gencatan senjata berlangsung dari tengah hari waktu setempat pada Jumat 6 Januari hingga tengah malam pada Sabtu 7 Januari.

Sebelumnya pada Kamis, Putin membahas prospek negosiasi perdamaian dengan Ukraina melalui telepon dengan timpalannya dari Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Presiden Rusia menegaskan kembali Moskow terbuka untuk dialog serius dengan Kiev jika Kiev mengakui realitas teritorial baru.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved