UGM Dorong Kedaulatan dan Ketahanan Pangan Dalam Negeri

Adapun Dies Natalis ke-73 ini memiliki tema ‘Pangan Berdaulat, Bangsa Bermartabat

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Sejumlah dosen melepaskan burung dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-73 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN  - Universitas Gadjah Mada (UGM) berkomitmen untuk terus mendorong kedaulatan pangan dengan teknologi tepat guna yang bermanfaat bagi masyarakat.

Komitmen tersebut diteguhkan dalam rangkaian Dies Natalis ke-73 UGM yang puncaknya akan digelar pada Senin, 19 Desember 2022 hari ini.

Adapun Dies Natalis ke-73 ini memiliki tema ‘Pangan Berdaulat, Bangsa Bermartabat’.

“Kami berupaya untuk mengawal proses kedaulatan pangan itu dari hulu ke hilir ya. Beberapa sistem yang sudah kami produksi, sudah bisa digunakan oleh masyarakat,” ujar Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM kepada wartawan, Kamis (15/12/2022) lalu.


Prof Eni, yang juga menjabat sebagai Ketua Dies Natalis ke-73 UGM, menjelaskan, peringatan Dies Natalis kali ini mengangkat tema ‘Pangan Berdaulat, Bangsa Bermartabat’.

Tema ini, kata dia, diambil melihat situasi Indonesia yang kini menghadapi sejumlah isu penting di bidang pangan di tengah dilema antara pemenuhan kebutuhan pangan dan ketercukupan.

Persaingan penggunaan lahan pertanian produktif untuk orientasi pembangunan juga menjadi kendala yang tak bisa dipandang sebelah mata.

“Persoalan ketahanan dan kedaulatan pangan masih menjadi isu krusial di tanah air. Jumlah produksi pangan dan pertanian yang masih ada kesenjangan antar wilayah, harga pangan yang mahal, stunting dan gizi buruk masih saja terjadi. Perguruan tinggi, dengan Tridarma, memiliki kewajiban untuk turut serta menyelesaikan persoalan tersebut,” paparnya.

Prof. Eni menjelaskan, hingga kini, inovasi dari UGM sudah banyak diterapkan di masyarakat, salah satunya adalah sistem inovasi irigasi.

Sistem itu digunakan di bendungan yang ada di Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang diberi nama Sistem Pengelolaan Irigsi (Sipasi).

"Modernisasi irigasi ini penting. Ini adalah hulu untuk kedaulatan pangan dan diterapkan di beberapa irigasi di berbagai provinsi,” tutur dia.

Dilanjutkannya, hal lain yang dikembangkan adalah pengembangan produk strategis, seperti kedelai yang masih 90 persen impor.

UGM pun berupaya untuk mengembangkan Smart Agricultural Enterprise (SAE) yang berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan).

SAE untuk kedelai itu sudah diterapkan di Desa Selopamioro, Bantul, DIY guna menghasilkan kedelai berkualitas yang tidak kalah dengan barang impor.

Menurutnya, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kepada masyarakat usaha tani, pemerintah dan industri itu bisa menjadi solusi atas permasalahan ketergantungan impor kedelai.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved