Konflik Serbia Vs Kosovo
Serbia Dirikan Pusat Krisis Hadapi Potensi Perang di Kosovo
Serbia mendirikan pusat krisis guna menginformasikan apa yang terjadi di Kosovo utara terkait eskalasi konflik Kosovo-Serbia.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, BEOGRAD – Para tokoh Serbia Kosovo mendirikan pusat krisis guna menghadapi eskalasi konflik di Kosovo yang mengarah ke peperangan di utara wilayah itu.
Hal ini diutarakan Goran Rakic, tokoh Serbia Kosovo merespon tindakan Pristina yang mengirimkan polisi khusus ke berbagai titik di utara Kosovo.
Pusat krisis itu akan memberikan informasi yang sebenar-benarnya terkait kondisi di perbatasan Serbia-Kosovo.
Presiden Serbia Aleksandar Vucic sebelumnya mengadakan pertemuan Dewan Keamanan Nasional di Beograd, Minggu (11/12/2022).
Pertemuan merespon ancaman pemerintah Pristina yang akan secara paksa menghapus barikade yang didirikan oleh warga Serbia di utara Kosovo.
"Kami akan membentuk markas krisis yang akan menginformasikan warga dan media tentang situasi di lapangan. Saya mengimbau warga, mengingat tingginya ketegangan akibat ancaman dari Pristina, untuk tetap damai dan terkendali, tetapi juga waspada," kata Rakic di TV Pink Minggu malam waktu setempat.
Pemimpin de facto Kosovo, Albin Kurti, mendesak Pasukan Kosovo (KFOR) yang dipimpin NATO untuk membongkar barikade jalan yang didirikan warga Serbia Kosovo.
Jika KFOR menolak turun tangan, menurut Kurti, pasukan keamanan Kosovo akan siap melakukan operasi ini sendiri.
Baca juga: Uni Eropa Peringatkan Bahaya Pecahnya Kekerasan Serbia-Kosovo
Baca juga: Presiden Aleksandar Vucic : Serbia Sedang Dalam Situasi Sulit
Baca juga: Sejarah Singkat Konflik Politik dan Peperangan Kosovo-Serbia
Sekolah dasar dan menengah Serbia di utara Kosovo, yaitu Mitrovica dan di Metohija, menangguhkan kegiatan belajar mulai Senin ini karena meningkatnya ketegangan.
Orang-orang Serbia di bagian utara Kosovo mulai membuat barikade pada Sabtu sebagai protes terhadap penangkapan Dejan Pantic.
Dejan Panatic ini mantan polisi yang berhenti dari jabatannya pada pertengahan November dan ditangkap oleh otoritas Kosovo di perbatasan Jarinje karena dicurigai terlibat aksi terorisme.
Pada Sabtu malam, Vucic dalam pidato nasionalnya menegaska Beograd akan mengirimkan permintaan resmi kepada komando misi KFOR untuk izin mengerahkan militer dan polisi Serbia di Kosovo.
Dia juga menunjukkan foto-foto tentara Kosovo dengan alat berat dan senjata otomatis di wilayah utara dekat perbatasan dengan Serbia.
Vucic mengingatkan, menurut kesepakatan sebelumnya, pasukan polisi khusus hanya dapat dikerahkan ke kota-kota mayoritas Serbia dengan izin dari kepala daerah setempat.
Aleksandar Vucic memperingatkan, Serbia saat ini ada dalam situasi sulit, dan akan menggunakan segala cara untuk menghadapi masalah di Kosovo.
Vucic menuduh Pristina dan Washington kurang menghormati kesepakatan apa pun di antara pihak-pihak yang terlibat masalah di Kosovo.
“Serbia berada dalam situasi yang sangat sulit,” kata Vucic setelah pertemuan Dewan Keamanan Nasional Serbia, Minggu (11/12/2022).
Kata-kata Vucic muncul ketika ketegangan meningkat antara Beograd dan pihak berwenang Kosovo di bagian utara wilayah yang memisahkan diri itu.
Kosovo yang didominasi etnis Albania memerdekakan diri dari Serbia, yang ditolak Beograd dan tetap menganggap Kosovo bagian dari provinsi mereka.
Separatisme Kosovo ini efek dari konflik berkepanjangan sesudah terjadi debalkanisasi wilayah di bagian benua Eropa ini.
Yugoslavia terpecah-pecah menjadi negara kecil-kecil, dan konflik dipicu masalah etnis dan religi terus membayangi kawasan Balkan ini.
Para pengunjuk rasa warga Serbia mendirikan barikade selama akhir pekan. Sementara Kosovo membanjiri kota Mitrovica dengan polisi khusus bersenjata lengkap.
Vucic menyalahkan Pristina atas ketegangan tersebut dan menuduh bagian yang baik dari komunitas internasional berpartisipasi dalam skema otoritas Kosovo.
“Di tingkat internasional, informasi tentang situasi di Kosovo penuh dengan pemalsuan langsung, kebohongan telanjang," kata Vucic.
Ia menambahkan di lapangan, mereka menghadapi perjuangan yang sulit dari rakyat untuk bertahan hidup.
Ancaman Elite Uni Eropa
Vucic, yang mengklaim sedang menghadapi hari-hari tersulit sebagai presiden, mendesak warga Serbia di Kosovo utara untuk tenang dan damai dan tidak terpancing provokasi.
Secara khusus, presiden meminta mereka untuk menahan diri dari setiap tindakan agresif terhadap EULEX dan KFOR, masing-masing misi yang dipimpin oleh UE dan NATO, yang ditempatkan di Kosovo.
Dia juga mengatakan Beograd telah menerima jaminan dari KFOR mereka tidak akan melakukan tindakan kekerasan terhadap para demonstran.
“Kami akan melakukan segalanya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas,” tambahnya.
Pada saat yang sama, Vucic menuduh AS berpihak pada Kosovo melawan Serbia karena tidak menghormati kesepakatan yang dicapai dengan Beograd.
Menurut Vucic, Washington mengasuh Kosovo seperti anak selama sekitar 20 tahun, dan mempertahankan posisi AS yang sekarang melindunginya.
“Saya punya pertanyaan untuk mitra Amerika kami: perjanjian mana yang dihormati Pristina dan mana yang dihormati orang Amerika?” tanya Vucic.
Kebuntuan di Kosovo utara yang didominasi Serbia dipicu penangkapan seorang mantan polisi yang dituduh menyerang patroli penegak hukum Kosovo.
Ketegangan sudah memuncak setelah Pristina mengumumkan pemilihan cepat di daerah itu, yang diperkirakan akan diboikot oleh semua partai Serbia.
Pada Sabtu, Presiden Kosovo Vjosa Osmani menunda pemungutan suara hingga April.
Perdana Menteri Serbia Ana Brnabic turut memperingatkan, Uni Eropa akan kehilangan semua otoritas dan kredibilitasnya jika terus mendesak Serbia Kosovo menghapus barikade.
Diplomat tertinggi Uni Eropa, Josep Borrell, telah menuntut blockade disingkirkan, dan Uni Eropa takkan mentolerir apa yang disebutnya tindakan kriminal yang kejam di utara Kosovo.
Brnabic menuduh UE mengabaikan kebutuhan orang Serbia Kosovo. Mendirikan mereka bukan hanya demonstrasi ketidakpuasan dan keputusasaan tetapi seruan perdamaian.
“Orang-orang di barikade itu dengan jelas menyuarakan protes mereka, dan mereka melakukannya dengan damai. Sayangnya, satu-satunya cara bagi mereka untuk didengar adalah melalui barikade," tambahnya.
Ratusan orang Serbia mendirikan barikade memblokir jalan dan menghambat lalu lintas di dua penyeberangan perbatasan utama di utara Kosovo pada Sabtu.
Ketegangan di wilayah itu kembali dipicu oleh keputusan Pristina untuk menjadwalkan pemilihan cepat di empat komune yang didominasi Serbia pada 18 Desember.
Partai politik besar Serbia kemudian mengumumkan mereka akan memboikot setiap pemungutan suara.
Saat barikade didirikan, Presiden Kosovo Vjosa Osmani mengumumkan penundaan pemungutan suara hingga April.
Dengan ketegangan yang memuncak, beberapa laporan media menyatakan granat kejut dilemparkan ke kendaraan misi UE (EULEX) yang bertugas berpatroli di Kosovo utara.
Meski tidak ada korban luka atau kerusakan yang dilaporkan, dugaan insiden tersebut memicu reaksi marah dari Borrell.
“Uni Eropa tidak akan mentolerir serangan terhadap EULEX … atau penggunaan kekerasan, tindakan kriminal di utara,” katanya.(Tribunjogja.com/RussiaToday/Sputniknews/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Marinir-AS-di-Kosovo.jpg)