Berita Jogja Hari Ini

Ganjar Pranowo Tanyakan Komitmen Penguatan Budaya Jawa Agar Tak Tergerus Drama Korea

“Kita sudah lihat tadi, budaya Jawa itu kan ada yang benda dan tak benda, nah mari kita preteli satu per satu, dari situ mana yang bisa kita jadikan

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
Istimewa
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat menyampaikan pidato pembukaan dalam Kongres Kebudayaan Jawa III di The Alana Hotel and Convention Center, Senin (14/11/2022) malam 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menanyakan komitmen penguatan budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

Komitmen ini perlu dipertanyakan lantaran di zaman serba canggih, ada banyak kebudayaan yang menggempur masyarakat Jawa.

“Kita sudah lihat tadi, budaya Jawa itu kan ada yang benda dan tak benda, nah mari kita preteli satu per satu, dari situ mana yang bisa kita jadikan komitmen untuk kita lakukan? Mana yang bisa kita kerjakan dalam keseharian, jadi terbiasa dan membudaya,” ungkap Ganjar dalam pembukaan Kongres Kebudayaan Jawa (KKJ) III di The Alana Hotel and Convention Center, Sleman, Senin (14/11/2022) malam.

Baca juga: Festival Film Dokumenter 2022 Resmi Dibuka di Gedung ex Bioskop Permata Kota Yogyakarta

Diketahui, KKJ III ini. mengusung tema ‘Kabudayaan Jawa Anjayeng Bawana’ atau Budaya Jawa Mendunia.

Kegiatan ini semula direncanakan akan dihadiri tiga gubernur sekaligus, yaitu Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Namun, Khofifah absen, dan diwakili oleh Asisten I Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jatim, Benny Sampirwanto.

Menurut Ganjar, penguatan kebudayaan membutuhkan gerakan yang bisa dilakukan sehari-sehari agar budaya yang sudah ada tidak tergerus oleh budaya eksternal.

“Indonesia itu kan banyak kebudayaan dan kesenian. Bisa tidak kita membangun dengan itu? Warisan bendanya dan tidak bendanya dikembangan. Jadikan itu semua sendi dasar pembangunan,” tuturnya.

Ia yakin, apabila budaya yang sudah ada tidak dirawat, maka pelan-pelan budaya dalam negeri juga akan tersisih lantaran tekanan eksternal begitu luar biasa.

Ganjar sempat bertanya kepada para audiens kongres, apakah ada dari mereka yang suka menonton Drama Korea (drakor), Blackpink dan BTS.

“Strategi kebudayaan yang dibuat Korea Selatan itu kena (ke masyarakat Indonesia), kulinernya kena, skincare kena, baju kena, kimchi iku lho sik kuecute ra enak, sawi putih iku lho, saiki dibilang enak kok gara-gara matanya sudah kena itu,” tutur dia lagi.

Di situ, dia sempat menekankan agar perumusan KKJ III ini betul-betul bisa menghasilkan keputusan yang tepat, membuat budaya Jawa lebih kuat dan berkembang di tanahnya sendiri.

“Kalau gagal ya lewat kita. Kita harus masuk ke media digital, musti masuk ke sini karena media zaman sekarang itu media sosial, medsos,” terangnya.

Dia mencontohkan, banyak strategi agar kebudayaan bisa masuk ke media sosial.

Baca juga: Bappeda Wonosobo: Inovasi Klinik Perencanaan Akan Tingkatkan Capaian Kinerja Pembangunan Daerah

Alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengungkap, strategi penyebaran kebudayaan lewat medsos saat ini banyak dibalut dengan menceritakan kebaikan.

“Misalnya, ada nenek-nenek di Tiongkok, dia jualan sayur tapi tidak laku. Kemudian, datanglah mobil mewah, borong jualan nenek itu, dia diantar pulang ke rumah, dikasih beras, dikasih uang. Agak drama sih, tapi memang menceritakan kebaikan,” terangnya.

Menurutnya, dengan taktik seperti itu, negara Eropa dan Amerika mulai merasa harus menyebarkan kebudayaannya lewat media sosial juga.

Mau tidak mau, kebudayaan Jawa harus benar-benar diperkuat mengingat media sosial bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. (ard)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved