Perang Rusia Ukraina
Bos Mata-mata Rusia dan AS Bertemu di Ankara Turki
Kepala intelijen Rusia dan AS bertemu di Ankara Turki, mendiskusikan peredaan ketegangan antara kedua negara terkait perang di Ukraina.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Meski telah berlangsung pertemuan tingkat tinggi pejabat intelijen Rusia dan AS, skala konflik Rusia-Ukraina tidak akan turun dalam waktu dekat.
Terlebih kekuatan barat dan NATO memiliki agenda ekspansi wilayah, yang jadi satu di antara faktor yang membuat Rusia menggelar operasi khusus ke Ukraina.
“Memiliki musuh untuk dilawan sangat penting untuk kelangsungan hidup NATO,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko.
Diplomat itu menambahkan perluasan blok itu sebagian besar dimotivasi kebutuhan untuk memusuhi negara-negara sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan peran musuh.
“NATO adalah jenis organisasi yang tidak dapat hidup tanpa musuh. Kalau tidak ada pasti mati,” katanya seperti dikutip kantor berita RIA Novosti, Senin.
“Mereka telah menyatakan Asia sebagai zona kepentingan aliansi, mendorong zona pertahanan mereka ke perbatasan China,” katanya.
Grushko mengatakan konflik di Ukraina berasal dari niat NATO untuk akhirnya menerima Kiev sebagai anggota baru, sementara mengabaikan masalah keamanan nasional Rusia.
Aliansi itu masih berusaha untuk membawa masuk Ukraina, katanya, seraya menambahkan dia tidak percaya AS dan sekutunya bertindak rasional dalam masalah ini.
Kepemimpinan NATO mengklaim memiliki kebijakan pintu terbuka, mengatakan setiap negara memiliki hak berdaulat untuk memilihnya sebagai penyedia keamanan.
Piagamnya, bagaimanapun, mengharuskan semua anggota untuk menyetujui ekspansi apa pun, sebuah fakta yang muncul ke permukaan setelah Turki menghentikan aksesi Finlandia dan Swedia.
Aliansi militer pimpinan AS menyatakan masuknya Ukraina sebagai salah satu tujuannya pada 2008, menolak peringatan Moskow langkah seperti itu akan melewati garis merah.
Setelah kudeta Maidan 2014 di Kiev, pemerintah Ukraina yang baru membatalkan kebijakan netralitas negara dan mengatakan bergabung ke NATO adalah tujuan utamanya.
Ketika Rusia mengirim pasukannya ke Ukraina pada Februari, Rusia menyebut ekspansi klandestin NATO ke Ukraina sebagai salah satu alasan utama.
NATO telah melatih dan mempersenjatai tentara Ukraina dan membangun infrastruktur militer di negara itu tanpa secara resmi menerima tawaran keanggotaan Kiev.(Tribunjogja.com/RussiaToday/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Suasana-di-Kiev-pada-3-hari-operasi-militer-Rusia.jpg)