Perang Rusia Ukraina

Inilah yang Terjadi Jika Barat Serang Rusia Gunakan Bom Nuklir

Rusia masih memiliki sistem Perimeter dan Dead Hand, skenario standar era Soviet jika pecah perang nuklir.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Dokumentasi Tribun
Ilustrasi ledakan nuklir jia pecah peperangan global menggunakan bom atom. Satu-satunya penggunaan bom atom terjadi di Jepang, oleh pasukan AS yang menjadi awal berakhirnya Perang Pasifik. 

TRIBUNJOGJA.COM, MOSKOW – Seorang editor situs berita Russia Today, Abbas Duncan, menulis ulasan, skenario, dan gambaran situasi jika tiba-tiba barat menyerang Rusia menggunakan bom nuklir.

Dipublikasikan di laman media Rusia itu Selasa (8/11/2022), Moskow memiliki sistem nuklir era Soviet yang dapat menyerang balik jika NATO mengambil keputusan lebih dulu.

Abbas memulai tulisannya dengan membayangkan jika suatu hari tiba-tiba warga Rusia mendapat peringatan yang mengatakan tombol telah ditekan dan perang nuklir telah dilepaskan.

Dalam beberapa jam, jutaan akan mati dan ratusan juta lainnya akan mati di hari-hari berikutnya. Abu abu-abu akan membubung ke udara dan menyebar di atas reruntuhan Moskow.

AS akan meledakkan semua pusat 'pengambilan keputusan' di Rusia saat ini. Tapi bagaimana dengan Washington?

Baca juga: Putin Tempatkan Pesawat Pembom Canggih di Dekat Norwegia, Bisa Bawa Hulu Ledak Nuklir

Baca juga: AS Serius Tanggapi Opsi Penggunaan Senjata Nuklir oleh Vladimir Putin

Hal yang sama, tetapi tidak hanya ibu kota Amerika – kota-kota penting NATO lainnya mungkin akan dihancurkan juga.

Itulah kenyataan mengerikan bagi umat manusia jika senjata atom digunakan. Karena, seperti yang sering ditunjukkan para pemimpin Rusia modern, tidak ada pemenang dalam konflik seperti itu.

Baru-baru ini, mantan komandan tentara AS di Eropa, Ben Hodges, memperingatkan negaranya akan membalas lewat serangan dahsyat terhadap Rusia jika Moskow menggunakan nuklirnya di Ukraina.

Hodges sekarang menjadi pelobi di CEPA (kelompok penekan yang didanai industri senjata AS untuk mempromosikan, dan mempertahankan, ekspansi NATO di Eropa).

Ia mengatakan Washington dapat menargetkan Armada Laut Hitam atau menghancurkan pangkalan Rusia di Krimea.

Abbas Duncan lantas membuat kilas balik, dimulai 1984, ketika Konstantin Chernenko, seorang pekerja partai berusia 72 tahun, naik jadi pemimpin Rusia.

Ia saat itu menggantikan Leonid Brezhnev, yang sakit emfisema stadium akhir. Ironisnya, mengingat peristiwa hari ini, Chernenko adalah orang Ukraina.

“Pemimpin kekuatan besar ternyata bukan hanya lemah secara fisik, tetapi orang yang sakit parah, sebenarnya orang cacat,” tulis penggantinya, Mikhail Gorbachev, dalam salah satu bukunya.

Anatoly Chernyaev, yang saat itu menjabat sebagai wakil kepala Departemen Internasional Komite Sentral, mengingat, ketika Chernenko seharusnya bertemu Raja Spanyol, asistennya menyiapkan potongan pidatonya di kartu kertas kecil.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved