Berita Sleman Hari Ini

Warga Kalurahan Wonokerto Sleman Inisiatif Mengolah Salak Jadi Ragam Kuliner

Ketua Forum UMKM Kalurahan Wonokerto sekaligus pemilik UKM Salak Mas, Siti Mubarokah, mengatakan, selain inspirasi tersebut, alasan orang-orang

Tayang:
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/Neti Istimewa Rukmana
Ketua Forum UMKM Kalurahan Wonokerto sekaligus pemilik UKM Salak Mas, Siti Mubarokah, sedang menyajikan dagangannya di stan UMKM di halaman Kalurahan Magoagung, Senin (31/10/2022). 

Warga Kalurahan Wonokerto Inisiatif Mengolah Salak Jadi Ragam Kuliner

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta tidak lengkap rasanya jika tidak membeli salak. Buah-buahan dengan tekstur padat dan cita rasa manis yang khas, menjadi makanan favorit bagi wisatawan saat berkunjung ke DIY bagian utara.

Apalagi harga per kilogramnya yang murah sering menjadi incaran saat wisatawan berburu buah tangan.

Akan tetapi, kulitnya yang tajam membuat orang sering malas mengupasnya. Bahkan, saat dikupas, kulit salak pun sering melukai tangan orang yang mengupasnya.

Baca juga: Berbagai Fitur Gojek Temani Pelaku UMKM hingga Masyarakat Selama Pandemi COVID-19

Atas dasar itulah, warga di Kalurahan Wonokerto tepat di Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, DIY, atau berjarak 50 menit dari Tugu Pal Putih Yogyakarta, berinisiatif menjadi produsen kuliner dari bahan baku salak.

Ketua Forum UMKM Kalurahan Wonokerto sekaligus pemilik UKM Salak Mas, Siti Mubarokah, mengatakan, selain inspirasi tersebut, alasan orang-orang yang mengolah salak menjadi kuliner ialah untuk meraup cuan lebih banyak lagi.

"Harga salak itu sekitar Rp3-Rp6 ribu per kilogram. Kalau dijadikan makanan, untungnya pasti lebih besar. Ditambah, kami ingin menggali potensi yang ada di tempat kami lebih dalam lagi," ujar Siti saat berbincang bersama Tribunjogja.com di halaman Kalurahan Magoagung tepat di Jalan Tegal Gentan, Padukuhan Dukuh, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Senin (31/10/2022).

Tidak heran, jika wisatawan berkunjung ke Kalurahan Wonokerto, akan menemukan beragam kuliner dari bahan baku salak. Jumlah jenis kulinernya pun bisa mencapai angka belasan.

Namun, Siti menuturkan, produk kuliner paling best seller yang dimilikinya ialah manisan salak. Dalam sebulan, ia bisa mengabiskan 10 kuintal salak untuk dijadikan kuliner manisan salak.

Sedangkan jenis salak yang Siti olah menjadi kuliner ialah salak pondoh.

"Selain kualitas dari salak itu, harganya yang cenderung lebih terjangkau juga jadi pilihan kami untuk mengolah salak pondoh menjadi kuliner," ucapnya.

Siti pun bisa menjual 5 ribu cup per bulan. Secara dominan, peminat manisan salak itu berasal dari Jakarta dan Kalimantan.

"Banyak pengunjung yang juga ketagihan untuk beli lagi produk manisan itu. Karena kami memang tidak menggunakan bahan pengawet. Tapi, manisan salak kami bisa bertahan sampai satu bulan," lanjutnya.

Untuk menikmati kuliner itu, pengunjung cukup mengeluarkan uang sebesar Rp3 ribu per cup.

Sementara itu, dikatakanya, untuk proses pengolahan manisan salak hanya memakan waktu lima jam.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved