Hari Santri 2022
Teks Lengkap Amanat Ketua Umum PBNU Gus Yahya di Hari Santri 22 Oktober 2022
Berikut teks lengkap amanat Ketua Umum PBNU Gus Yahya untuk memperingati Hari Santri 2022 pada Sabtu, 22 Oktober 2022.
Penulis: Alifia Nuralita Rezqiana | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Haji (KH) Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan, Hari Santri pada Sabtu, 22 Oktober 2022 harus benar-benar dipahami, dihayati, dan ditegakkan.
Hal tersebut disampaikan Gus Yahya dalam sambutannya di acara pertemuan virtual antara PBNU, PWNU, dan PCNU seluruh Indonesia pada Rabu (19/10/2022), seperti dikutip Tribunjogja.com dari laman resmi nu.or.id, Jumat (21/20/2022).

Menurut Gus Yahya, Hari Santri perlu dihayati sebagai wujud syukur atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
“Mensyukuri berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, yang telah mengaruniakan kepada bangsa ini generasi pahlawan paripurna, yang berhasil menyempurnakan kelahiran Bangsa Indonesia sebagai Bangsa Merdeka,” katanya, Rabu (19/10/2022).
Untuk menyambut Hari Santri 2022, berikut isi teks amanat Gus Yahya yang akan dibacakan dalam acara Apel Hari Santri di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu, 22 Oktober 2022.
Teks lengkap amanat Ketua Umum PBNU Gus Yahya untuk Hari Santri berikut ini dikutip Tribunjogja.com dari laman resmi NU nu.or.id.
Teks Lengkap Amanat Ketua Umum PBNU Gus Yahya untuk Hari Santri 22 Oktober 2022

Yang Mulia, Rais Aam PBNU, beserta jajaran Pengurus Syuriyah PBNU, segenap Pengurus Tanfidziyah PBNU, jajaran Pengurus Syuriah dan Tanfidziyah PWNU se-Indonesia, jajaran Pengurus Syuriah dan Tanfidziyah PCNU se-lndonesia, serta PCI-NU di berbagai negara, warga Nahdliyin di mana pun berada, serta semua peserta apel yang sama-sama mencintai Indonesia.
Bertepatan dengan Peringatan 70 Tahun Resolusi Jihad, Pemerintah memberikan pengakuan peran penting perjuangan para ulama dengan menjadikan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.
Apresiasi ini disampaikan di Masjid Istiqlal yang dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tertanggal 15 Oktober 2015.
Tentu, penetapan dari Pemerintah Indonesia ini patut disyukuri sebagai momentum untuk mengenang dan menghormati jasa perjuangan para pahlawan, seperti KH. Muhammad Hasyim Asy‘ari, KH. Ahmad Dahlan. H.O.S Cokroaminoto, Tengku Fakinah, Maria Josephine Walanda Maramis, dan masih banyak pahlawan Iainnya yang turut berjuang sejak zaman pra revolusi kemerdekaan.
Merujuk sejarahnya, lahirnya Hari Santri Nasional bersumber pada fatwa KH. Muhammad Hasyim Asy'ari.
Sebelum fatwa itu lahir, para ulama pesantren Jawa-Madura menggelar rapat di Kantor PBNU Jalan Bubutan, Surabaya, tanggal 21 sampai 22 Oktober 1945.
Hasilnya, dua keputusan yang berhasil menggerakkan rakyat melawan penjajahan :
1. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan dan agama dan negara Indonesia terutama terhadap pihak Belanda dan kaki tangannya.