Berita Bantul Hari Ini

Total Ada 386.581 Meter Persegi Tanah di Bantul yang Akan Terdampak Tol Yogyakarta-Kulon Progo

“Untuk Kabupaten Bantul sendiri, kapanewon yang terdampak tol ada di Sedayu yakni di Kalurahan Argomulyo sejumlah 491 bidang dengan luas 272.044 meter

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/Santo Ari
Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIY, Krido Suprayitno memberikan penjelasan terkait pembangunan tol yang melintasi Bantul, Jumat (14/10/2022) 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Proses pembangunan jalan tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo terus berlanjut dan saat ini telah dimulai sosialisasi untuk seksi Tol Yogyakarta-Kulon Progo atau seksi 3.

Di seksi 3 ini, ada wilayah Kabupaten Bantul yang akan terdampak pembangunan jalan tol.
 
Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIY, Krido Suprayitno menjelaskan bahwa trase tol seksi tiga ini memiliki panjang kurang lebih 38,75 km yang terbagi di 3 Kabupaten yakni Sleman, Bantul dan Kulonprogo. 

Baca juga: UPDATE Harga Hp Samsung Galaxy A33, A53, A73 Terbaru Oktober 2022, Cek Spesifikasinya

Adapun seksi tiga ini dimulai dari junction di Tirtoadi Sleman dan berakhir di YIA. Trase tol ini membutuhkan luas tanah sekitar 5 juta meter persegi dengan perkiraan bidang yang dibutuhkan ada 6.173 bidang.
 
“Untuk Kabupaten Bantul sendiri, kapanewon yang terdampak tol ada di Sedayu yakni di Kalurahan Argomulyo sejumlah 491 bidang dengan luas 272.044 meter persegi dan Kalurahan Argosari sejumlah 172 bidang dengan luas 114.537 meter persegi. Sehingga total ada 663 bidang dengan luas 386.581 meter persegi," ujarnya saat sosialisasi di Pemkab Bantul, Jumat (14/10/2022).
 
Krido menyatakan, setelah melakukan sosialisasi ke Bupati dan jajarannya, pihaknya akan melanjutkan sosialisasi ke dua kalurahan di Bantul yang terdampak tol. Rencananya akan dilakukan pada akhir Oktober atau awal November 2022 ini.  
 
“Saat sosialisasi itu kami akan menyebarkan informasi adanya rencana trase jalan tol tadi, maka akan akan menghadirkan warga yang kemungkinan terdampak di dua kalurahan itu,” katanya.
 
Usai sosialisasi, akan diteruskan tahapan konsultasi publik. Di tahapan tersebut pihaknya sudah memiliki  daftar sementara nominatif warga yang terdampak.

Daftar itu akan dicocokan dengan peta bidang yang ada. 

Output dari proses itu adalah kesepakatan warga, yang harapannya semua setuju lahannya dipakai untuk pembangunan jalan tol.

Dengan demikian, dapat mempercepat proses izin penetapan lokasi (IPL) oleh Gubernur.  
 
“Rencanya IPL di 2022. Kami berharap di 2022 sudah selesai untuk mempercepat tahapan pengadaan tanah di 2023,” terangnya.
 
Sementara itu Bupati Bantul Abdul Halim Muslih  berharap rencana  proses pembangunan jalan tol dapat lancar tanpa hambatan sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ia menyatakan bahwa tahapan pengadaan dan pembebasan lahan dalam pembangunan infrastruktur adalah tahapan penting dan kadang krusial. Maka dari itu dirinya mengajak Lurah Argomulyo dan Argosari untuk ikut aktif memperlancar dan mendukung dalam setiap tahapan pembangunan jalan tol ini.

“Pembangunan jalan tol saat ini sudah merupakan keniscayaan yang harus kita sadari bersama mengingat keberadaan jalan tol ini akan melayani tidak hanya pergerakan manusia, tapi barang dan jasa khususnya di wilayah Jawa,” ungkapnya.

Dengan saling terhubungnya antar kota antar provinsi ini, maka dapat meningkatkan produktivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, termasuk di Kabupaten Bantul.

Terlebih menurutnya, Bantul memiliki berbagai sentra industri kerajinan yang sangat membutuhkan sarana prasarana dan infrastruktur yang sempurna.  

“Kebutuhan ini dirasakan oleh para pengusaha kita, karena hampir semua barang-barang kreatif yang diproduksi Bantul, bahan bakunya didatangkan dari luar bantul. Tentu ini memerlukan sarana prasarana transportasi yang lebih cepat, salah satunya adalah jalan tol yang dapat memudahkan mendatangkan bahan baku dan mengirim kerajinan,” tambahnya.

Bupati menyatakan bahwa sektor industri di Bantul mengandalkan kelancaran mobilitas barang dan jasa dan keberadaan jalan tol sangat mendukung untuk kepentingn Bantul tersebut.

“Mudah-mudahan akan segera terealisasi,” katanya.

Baca juga: Petugas Bongkar Paksa Reklame Jumbo Tak Berizin di Tepi Jalan Magelang Sleman, Dinilai Membahayakan

Sementara itu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Yogyakarta-Kulon Progo, Dian Hardiansyah menjelaskan bahwa pemerintah telah menganggarkan Rp 3,8 triliun untuk pembayaran ganti untung ke masyarakat yang terdampak pembangunan jalan tol seksi tiga.  

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa di seksi tiga atau Tol Yogyakarta-Kulon Progo ini, akan dibuat tol yang sebagian elevated (melayang) dan sebagian atgrade (di tanah).

Untuk Kabupaten Bantul sendiri, tol yang melintas adalah atgrade.

“Di seksi tiga ini, ada exit tol di Gamping , Sentolo, Wates dan Bandara YIA. Untuk di Gamping akan dibangun rest area di luar tol yang dapat dimanfaat para pelaku UMKM, ini sesuai arahan Gubernur DIY,” tandasnya. (nto)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved