Kimia Farma dan BRIN Luncurkan Obat Pendeteksi Tuberculosis Pertama di Indonesia
Obat ini merupakan inovasi anak bangsa yang berguna untuk membantu dalam mendeteksi penyakit Tuberculosis paru-paru, maupun Ekstraparu.
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pekan ilmiah tahunan Perhimpunan Kedokteran Nuklir dan Teranostik Molekuler Indonesia (PKNTMI) memunculkan karya-karya luar biasa didunia farmasi untuk tahun ini.
Salah satunya yakni obat pendeteksi penyakit Tuberculosis (TB) pertama kali dihasilkan anak bangsa yang diluncurkan PT Kimia Farma, bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Obat ini merupakan inovasi anak bangsa sekaligus persembahan bagi sejawat dokter dan tenaga kesehatan yang berguna untuk membantu dalam mendeteksi penyakit Tuberculosis paru-paru, maupun Ekstraparu.
Direktur Pemasaran, Riset dan Pengembangan PT Kimia Farma Tbk, Dr Jasmine Karsono mengatakan, obat pendeteksi TB itu diberi nama TB-Scan (Kit Ethambutol).
Dijelaskan Jasmine, untuk riset dan pengembangannya dilakukan oleh BRIN sementara pihak Kimia Farma bagian registrasi dan pemasaran.
Baca juga: UGM dan Kimia Farma Jalin Kerja Sama Penelitian dan Pengembangan SDM
"Sistem kerjanya ini mendeteksi TB. Secara spesifik mudah dikenali dan mudah interaksi dengan bakteri TB. Jadi lebih mudah diketahui lokasi bakteri TB (dalam tubuh) dimana," katanya, saat jumpa pers di Hotel Marriot, Yogyakarta , Jumat (7/10/2022).
Kepala Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri (PRTRRB) Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ), Dr. Tita Puspitasari, menambahkan, karena tingkat sensitif untuk mendeteksi bakteri TB sangat tinggi, obat ini pun lebih diunggulkan.
Jika pada pengujian secara konvensional dengan mendeteksi bakteri TB melalui dahak dan air liur memakan waktu lima hingga tujuh hari, maka dengan TB-Scan (Kit Ethambutol) ini diklaim oleh Jasmine hanya butuh waktu empat jam saja.
"Jadi senyawa kimia yang diberi atom radioisotope disuntikan, maka cairan itu masuk ke tubuh dan akan mendeteksi bakteri TB ada dimana," ungkapnya.
Untuk tingkat akurasinya dijelaskan Tita diatas 90 persen.
Dengan tingkat diagnosis dan akurasi yang tinggi, diharapkan itu akan memudahkan proses pengobatan.
Sehingga mampu menekan angka kasus TB di Indonesia, yang sampai saat ini diklaim olehnya mencapai 845.000 orang, dengan 14.000 di antaranya meninggal dunia karena penyakit itu.
"Jadi kalau kita bisa mendeteksi dini, maka bisa lebih cepat penanganannya," ungkapnya.
dr Achmad Hussein Sundawa K selaku Peneliti Kedokteran Nuklir Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, menambahkan, penelitian TB-Scan (Kit Ethambutol) dimulai sekitar 2004 silam.
Saat itu dia bekerjasama dengan Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri (PRTRRB) BRIN untuk menciptakan obat pendeteksi TB.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kimia-Farma-dan-BRIN-Luncurkan-Obat-Pendeteksi-Tuberculosis-Pertama-di-Indonesia.jpg)