Berita Jogja Hari Ini

DPAD DIY Gelar Pameran Arsip Kilas Balik Penetapan Gubernur dan Wagub di DI Yogyakarta

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DPAD DIY) yang diwakili oleh Sekretaris DPAD DIY, Drs Martono Heri Prasetyo

tangkapan layar
Pelaksanaan webinar pameran arsip Kilas Balik Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY secara daring, Jumat (23/9/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DPAD DIY) yang diwakili oleh Sekretaris DPAD DIY, Drs Martono Heri Prasetyo M.Si, mengatakan, proses pengangkatan dan pelantikan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak 1998, telah terjadi melalui proses yang berliku dan penuh dinamika.

"Bahkan ada unsur polemik dikarenakan peraturan Undang-Undang yang berlaku pada waktu itu belum mengatur secara khusus. Baik ketentuan secara calon maupun mekanisme pengangkatannya," ucapnya, saat memberi sambutan di pembukaan Webinar Pameran Arsip Kilas Balik Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, Jumat (23/9/2022).

Baca juga: Kepala Disdikpora Bantul Tak Melarang Orang Tua yang Memberikan Sumbangan Secara Sukarela

Sehubungan dengan itu, kini DPAD DIY mengelar pameran arsip dengan tema 'Kilas Balik Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY'.

Tujuan diselenggarakannya agenda itu ialah untuk mengenang sejarah penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur, sebagai implementasi daerah istimewa sekaligus mangayubagyo pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY pada 2022-2027.

Bahkan, DPAD DIY telah mengelar pameran arsip tersebut sejak 10 September hingga 31 Oktober 2022 mendatang, di Lobby Gedung Depo Arsip, DPAD DIY

Pameran yang ditampilkan, berupa photo, video, dan audio visual terkait pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur sejak awal menjabat hingga saat ini. 

Tidak hanya di situ saja, pihaknya menggelar diskusi guna mangayubagyo pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY pada 2022-2027. 

Diskusi itu membahas keistimewaan yang hadir di DIY tidak secara tiba-tiba, melainkan terdapat latar belakang atau sejarah yang cukup panjang pada kala itu.

Dalam hal itu, Ketua Komisi A DPRD DIY dan Budayawan Asal Kotagede turut hadir dengan memaparkan perjalanan panjang berdirinya DIY.

"Kita liat yang namanya Yogyakarta itu tidak bisa dipisahkan dari peristiwa Palihan Nagari. Karena bagaimana pun juga, [sebelum DIY berdiri terdapat] Kerajaan Mataram Islam yang awalnya berdiri di Kota Gede," tutur Budayawan sekaligus Cendikiawan asal Kotagede, Drs. Achmad Charris Zubair, M.A.

Baca juga: Cegah Pungli Terus Menjamur, Disdikpora DIY Bakal Atur Pedoman Sekolah untuk Menentukan Sumbangan

Kemudian, sejak Sultan Agung Raja ketiga tersebut pindah ke beberapa tempat, mulai dari Kerto, Pleret, Kartasura, hingga  Surakarta. Pada saat itu pula, terdapat Perjanjian Giyanti antara Paku Buwana III dengan Pangeran Mangkubumi pada 13 Februari 1755.

Kemudian, perjanjian itu menjadikan Pangeran Mangkubumi mendirikan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat pada 13 Maret 1755. 

"Kemudian, beliau tinggal di pasanggrahan Ambarketawang dan kemudian boyongan dari Ambarketawang ke Kraton yang baru pada 7 Oktober 1756, yang juga dijadikan momentum hari ulang tahun Kota Yogyakarta," ujarnya.

Hal itu menjadikan bukti bahwa hadirnya Daerah Istimewa Yogyakarta membutuhkan proses yang panjang. (Nei)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved