Berita Jogja Hari Ini

Dorong Warga Kelola Sampah Organik, DLH Kota Yogyakarta: Metodenya Bebas

Dari sekitar 370 ton sampah per hari yang diproduksi di Kota Yogyakarta, 60 persennya merupakan sampah organik.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUN JOGJA/AZKA RAMADHAN
Kepala DLH Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto, saat meninjau Kandang Maggot Jogja, Rabu (21/9/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mendorong semua warga masyarakat agar mulai melakukan pengelolaan sampah organik secara mandiri.

Upaya tersebut diperlukan untuk menekan buangan ke TPA Piyungan.

Bukan tanpa sebab, dari sekitar 370 ton sampah per hari yang diproduksi di Kota Yogyakarta, 60 persennya merupakan sampah organik.

Sehingga, jikalau tidak ditekan dari hulunya, problem persampahan pun tak akan menemui ujungnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto, menyampaikan langkah yang ditempuh Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) yang mengandalkan metode budidaya maggot guna mengolah sampah organik di Kelurahan Kricak, Tegalrejo, sangat layak diapresiasi.

"Tapi, ini kan berkaitan dengan lahan. Karena di sini adalah Sultan Ground, sehingga bisa dimanfaatkan teman-teman di FKWH, dan tentu kami mendukung penuh," terangnya, saat meninjau Kandang Maggot Jogja, Rabu (21/9/2022) pagi.

Namun, untuk warga atau kelompok masyarakat di lain wilayah, DLH pun mengimbau agar memilih sendiri sistem pengolahan sampah organik yang dirasa tepat. Yaitu, dengan memperhatikan penuh kondisi sosial kemasyarakatan.

"Belum tentu saat maggot ini kita aplikasikan di wilayah lain, di Kotabaru misalnya, bisa survive seperti ini. Karena ini kan berhubungan dengan kondisi sosial juga, ya," jelasnya.

"Karena ibu-ibu belum tentu mau loh, mengurusi sistem pengolahan sampah seperti ini. Tentunya butuh penyesuaian yang panjang agar benar-benar klop," tambah Sugeng.

Terlebih, metode pengelolaan sampah organik kini sudah tersedia beragam jenis. Selain maggot, ada komposter, serta losida (lodong sisa dapur).

Menurutnya, masyarakat leluasa memilih, kemudian DLH siap memberi pendampingan.

"Intinya sistem apapun kami support, kami sama sekali tidak memaksakan. Silakan saja, masyarakat mau menggunakan metode apa. Pengolahan sampah organik bisa dilakukan siapa saja dan dengan pola apa saja," terangnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved