Berita Sleman Hari Ini

Hujan Deras Tak Halangi Kemeriahan Saparan Bekakak Ambarketawang 2022

Sebanyak 23 kelompok kesenian dan bergada di Kalurahan Ambarketawang mengenakan pakaian tradisional dalam Saparan Bekak Ambarketawang 2022.

Tayang:
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Neti Istimewa Rukmana
Persiapan menjelang prosesi kirab Saparan Bekakak Ambarketawang 2022, Jumat (9/9/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Guna melestarikan tradisi Saparan Bekakak di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman , Daerah Istimewa Yogyakarta, ribuan warga tampak berbondong-bondong memadati Lapangan Ambarketawang pada Jumat (9/9/2022) sore.

Tampak pula 23 kelompok kesenian dan bergada di Kalurahan Ambarketawang mengenakan pakaian tradisional dalam pelaksanaan tradisi itu.

Beberapa kelompok diantaranya juga hadir dengan membawa Ogoh-Ogoh serta gunungan hasil bumi.

Namun, sayangnya saat acara tersebut dimulai, tiba-tiba hujan dengan intensitas curah yang cukup deras mengguyur seluruh Kalurahan Ambarketawang. 

Baca juga: Festival Anggrek Vanda Tricolor 5 di Sleman Jadi Bagian Edukasi Budidaya

Tetapi, adanya hujan tersebut tidak mengurangi semangat para peserta dan panitia Saparan Bekak Ambarketawang 2022, untuk melaksanakan prosesi upacara hingga kirab budaya.

Lurah Ambarketawang, Sumaryanto, sangat mengapresiasi pelaksaaan tersebut yang tetap semangat diikuti oleh para peserta maupun panitia Saparan Bekak Ambarketawang 2022.

"Saya bangga juga, walaupun hujan deras, para peserta dan panitia tetap bergoyang royong atau bersama-sama memeriahkan peringatan tradisi itu. Sehingga semua bisa berjalan sesuai dengan rencana sebelumnya, " katanya kepada Tribunjogja.com di dekat Lapangan Ambarketawang.

Mengingat Kalurahan Ambarketawang menjadi satu di antara desa budaya, hal itu menjadi tuntutan untuk terus melestarikan tradisi yang telah ada pada tahun-tahun sebelumnya. 

Tradisi saparan bekak sediri telah berlangsung sejak kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono I pada 1756 Masehi.

Sedangkan, istilah 'Bekakak' merupakan korban dari penyembelihan hewan atau manusia.

Maka dari itu, dalam pelaksaannya terdapat sepasang boneka berbentuk manusia yang mengenakan pakaian adat Yogyakarta dan ditaruh di dalam tandu berwarna hijau.

Baca juga: Dua Tahun Vakum, Kini Kirab Suran Mbah Demang Kembali Digelar

Tradisi yang digelar khusus pada bulan Sapar itu diharapkan dapat menghindari masyarakat Ambarketawang dari marabahaya.

"Saya juga berterima kasih, karena masyarakat sangat antusias menyaksikan Saparan Bekakak," ucap Sumaryanto.

Pasalnya, saat pademi dua tahun yang lalu, Bekakak hanya dilakukan secara terbatas tanpa dihadiri oleh masyarakat. 

Begitu pula dengan pasukan bergada yang tidak dapat bergabung memeriahkan Saparan Bekakak pada dua tahun sebelumnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved