Perbankan Syariah Punya Peran Besar dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI), Banjaran Surya Indrastomo pemulihan ekonomi nasional ditopang oleh Windfall Profit Komoditas

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perekonomian Indonesia terus menggeliat menuju pemulihan setelah kontraksi akibat pandemi Covid-19.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) momentum pemulihan ekonomi terjadi pada kuartal II/2021 yang tumbuh sebesar 7,07 persen.

Pertumbuhan berlanjut pada kuartal III/2021 mencapai 3,51 persen, kuartal IV/2021 sebesar 5,02 persen dan kuartal I/2022 di level 5,01 persen.

Baca juga: Cerita Buruh Emping di Klaten jadi Miliarder setelah Terima Ganti Rugi Tol Yogyakarta-Solo

Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI), Banjaran Surya Indrastomo pemulihan ekonomi nasional ditopang oleh Windfall Profit Komoditas ekspor utama dan mobilitas masyarakat yang kembali seperti sebelum pandemi. 

Selain itu, sektor manufaktur konsisten ekspansif juga diikuti segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UKM) yang kembali bergairah.

Kondisi ini menopang peningkatan permintaan yang diiringi naiknya konsumsi dari kelas pekerja. 

"Imbasnya, pertumbuhan total kredit industri perbankan nasional melesat double digit ke level 10,66 persen menjadi Rp 6.313 triliun pada Juni 2022. Angka ini melampaui estimasi awal di kisaran 6 persen - 8 persen. Pertumbuhan kredit yang solid ini terjadi di tengah pengetatan likuiditas," katanya melalui keterangan tertulis, Kamis (25/08/2022).

Ia menyebut pulihnya ekonomi Tanah Air tak terlepas dari dari peran aktif perbankan syariah memutar roda perekonomian dengan mendongkrak kinerja pembiayaan yang tumbuh di atas rata-rata industri perbankan nasional.

"Di tengah geliat perekonomian, perbankan syariah memainkan peran aktif melalui pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang di atas rata-rata industri perbankan nasional. Sampai dengan kuartal II/2022 pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah mencapai 14,09 persen (yoy) di tengah permodalan yang tetap kuat,” lanjutnya.

 Secara nominal pembiayaan perbankan syariah nasional mencapai Rp 462,34 triliun hingga akhir kuartal II/2022. Adapun pertumbuhan quarter to quarter (qtq) mencapai 6,43 persen dari Rp 434,39 triliun pada kuartal sebelumnya.

Sementara itu, perbankan konvensional pada kuartal II/2022 tumbuh sebesar 10,37 persen secara yoy menjadi Rp 5.851 triliun.

Adapun pertumbuhan quarter to quarter (qtq) mencapai 5,19 persen dari Rp5.562 triliun pada kuartal sebelumnya.

Sedangkan industri perbankan nasional tumbuh 5,28 persen secara qtq dari Rp 5.997 dari kuartal sebelumnya.

Baca juga: ISI Yogyakarta Gelar PKKMB untuk Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2022/2023

"Tak hanya itu, dari segi aset, pertumbuhan bank syariah pun lebih besar dari pertumbuhan industri perbankan nasional ataupun perbankan konvensional. Di mana aset industri perbankan syariah tumbuh 14,21 persen yoy menjadi Rp721 triliun. Sementara aset total industri perbankan nasional hanya tumbuh 9,52 persen dan industri perbankan konvensional sebesar 9,19 persen,"ungkapnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved