Tahun Baru Islam

MENGAPA Tidak Boleh Keluar Rumah di Malam 1 Suro? Ternyata Ini Alasannya

Malam 1 Suro dipercaya sebagai datangnya Aji Saka ke Pulau Jawa. Mitosnya, itu dapat membebaskan rakyat dari genggaman makhluk gaib.

Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Rina Eviana
TRIBUNJOGJA.COM / Bramasto Adhy
MENGAPA Tidak Boleh Keluar Rumah di Malam 1 Suro? Ternyata Ini Alasannya 

Sebab, masyarakat Jawa masih banyak yang percaya jika malam 1 Suro merupakan waktu lelembut untuk muncul ke dimensi manusia.

Mereka bakal mencelakakan manusia dengan cara apapun.

Maka, ada baiknya, tidak keluar rumah di malam satu suro untuk mengantisipasi hal yang tidak kita inginkan.

Pada saat malam 1 Suro, masyarakat pantang untuk mengadakan sebuah hajatan seperti acara pernikahan.

Pantang sekali bagi orang Jawa untuk melakukan acara penrikahan di waktu tersebut.

Ratusan warga mengikuti ritual Topo Bisu Mubeng Benteng di komplek Keraton Yogyakarta, Sabtu (25/10/2014) dini hari.
Ratusan warga mengikuti ritual Topo Bisu Mubeng Benteng di komplek Keraton Yogyakarta, Sabtu (25/10/2014) dini hari. (Tribun Jogja/Santo Ari)

Mereka menganggap jika mengadakan hajatan di malam 1 Suro akan membawa sebuah kesialan.

Baca juga: Mubeng Beteng Malam 1 Suro Ditiadakan, Keraton Yogyakarta Gelar Umbul Dungo Secara Terbatas

Juga, malam 1 Suro menjadi malam intropeksi diri. Sehingga, tidak elok rasanya jika menggelar agenda meriah di tengah upaya memperbaiki diri menjadi yang lebih baik.

Masyarakat Jawa juga percaya jika malam 1 Suro adalah hari dimana arwah keluarga yang sudah meninggal akan mengunjungi rumah.

Ini dilakukan guna meminta didoakan oleh sanak keluarga.
Biasanya orang-orang menyebut sebagai  ‘tilik umah’ atau artinya ‘mengunjungi rumah’.

Pada malam 1 Suro ini pun banyak orang-orang yang meminta pesugihan.

Bukan pesugihan untuk kekayaan, tapi juga bisa tentang perdagangan, kesuksesan secara instan.

Tahun ini, di Kraton Yogyakarta, memang tiada agenda mubeng beteng.

Biasanya, saat kirab di sana, masyarakat harus jalan kaki dari rumah untuk menghormati arwah para leluhur.

Apabila menggunakan kendaraan, maka akan dikhawatirkan arwah terasa terusik dan terganggu karena suara kendaraan tersebut.

 

( Tribunjogja.com | Bunga Kartikasari )

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved