Berita Sleman Hari Ini

Pemkab Sleman Minta Peternak Jaga Kebersihan Kandang Ternak untuk Cegah PMK

Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Sleman semakin meluas dan telah tersebar di semua Kapanewon. Data hingga 21 Juli 2022, sudah ada

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
istimewa
Satgas PMK Sleman melakukan penyemprotan disinfeksi eco-enzyme di kandang-kandang ternak di Cangkringan, Pakem dan Turi, Jumat (22/7/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Sleman semakin meluas dan telah tersebar di semua Kapanewon.

Data hingga 21 Juli 2022, sudah ada 5.529 kasus PMK. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.080 ternak sembuh, 4.271 sakit, 25 dipotong bersyarat dan 153 ekor mati. 

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman, Ir Suparmono mengatakan, kasus kematian akibat PMK di Sleman paling banyak ditemukan pada anakan sapi (pedet).

Kemudian ternak yang sedang bunting.

Di samping itu, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, tingginya kasus kematian juga ditemukan pada kandang ternak dengan sirkulasi udara dan pencahayaan matahari yang relatif kurang baik.  

Baca juga: Mulai Terisi Pasien, Ini Cara Mengakses Selter Covid-19 di Rusunawa Bener Kota Yogyakarta

"Jadi (kasus kematian ini) sangat tergantung dengan pemilik ternak, untuk menjaga tingkat kebersihan kandang. Jika sirkulasi udara dan pencahayaan matahari di kandang kurang baik, ternak lebih cepat mati. Begitu juga sebaliknya. Kandang dengan sirkulasi bagus, akan mendorong proses penyembuhan. Ternak sakit lebih cepat sembuh. Jadi, kami minta pemilik ternak untuk selalu menjaga kebersihan kandang," kata Suparmono, Kamis (22/7/2022). 

Menurut Suparmono, satu di antara upaya menjaga kebersihan kandang adalah dengan cara penyemprotan disinfeksi.

Pihaknya bersama Satgas penanganan PMK Kabupaten Sleman mengaku sudah memulai penyemprotan disinfeksi ke kandang ternak dengan memanfaatkan eco-enzyme bantuan dari Komunitas eco-enzyme Nusantara Sleman sebanyak 500 liter.

Penyemprotan dilakukan di sejumlah kandang ternak di wilayah Pakem, Cangkringan dan Turi dengan melibatkan petugas BPBD, Polri-TNI dan relawan. 

Teknis penyemprotan eco-enzyme ini dengan cara pengenceran seribu kali.

Artinya, 1.000 mililiter eco-enzyme bisa dilarutkan dengan 1.000 liter air.

Menurut Suparmono, gerakan penyemprotan ke kandang-kandang ternak ini sebagai upaya pemantik. 

"Harapannya setelah ini, masyarakat dan kelompok ternak bisa menyemprot kandang secara mandiri. Disinfeksi, sudah kami distribusikan ke Puskeswan di semua Kapanewon. Yang membutuhkan, silakan bisa ambil di Puskeswan," katanya. 

Selain disemprot, penggunaan disinfeksi eco-enzyme dalam upaya penanggulangan PMK juga bisa dilakukan dengan melarutkan ke minuman ternak dengan kadar takaran yang sesuai.

Kemudian, bisa juga diaplikasikan dengan cara disemprotkan langsung ke bagian mulut dan kuku ternak yang luka menggunakan eco-enzyme murni tanpa campuran. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved