Wawancara Eksklusif

Bincang Bersama Direktur Pencegahan BNPT: Terorisme Itu Mirip Virus

Dia menegaskan tak semua daerah dengan indeks potensi radikalisme yang tinggi selalu menjadi daerah yang memproduksi para teroris

Istimewa
Brigjen Pol Ahmad Nurwahid, Direktur Pencegahan BNPT 

TRIBUNJOGJA.COM - Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigardir Jenderal Polisi Ahmad Nur Wahid mengungkap, pihaknya telah memetakan daerah-daerah yang dianggap memiliki indeks potensi radikalisme tinggi.

Hanya saja, dia menegaskan tak semua daerah dengan indeks potensi radikalisme yang tinggi selalu menjadi daerah yang memproduksi para teroris. Hal ini disampaikan Nurwahid dalam wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribunnetwork, Febby Mahendra Putra. Berikut petikan wawancaranya.

Bisa dijelaskan apa sebenarnya pekerjaan Anda di Direktorat Pencegahan BNPT?

BNPT adalah satu di antara sembilan direktorat yang bertugas di dalam melakukan pencegahan. Pertama adalah sesuai amanah UU No.5 Tahun 2018 melakukan yang namanya kesiapsiagaan nasional yaitu tidak hanya fisik atau pasukan, manajemen, dan sebagainya tapi juga kesiapsiagaan ideologinya.
Karena akar masalah terorisme ini ideologi. Maka kita berikan masyarakat yang masih moderat, kurang lebih ada 87,8 persen itu kita berikan yang namanya vaksinasi ideologi. Agar mereka imun, tidak terpapar paham radikal, karena paham radikalisme ini virus ideologi yang bisa memapar siapa saja, termasuk yang moderat masih berpotensi terpapar.

Jadi mirip dengan Covid-19, ya?

Iya. Kalau Covid-19 itu virus yang penularannya lewat droplet atau udara, maka virus ideologi ini lewat penglihatan dan pendengaran, lewat mata dan telinga. Sehingga banyak penyebaran virus ideologi radikal itu melalui dunia maya. Lewat Youtube, mendengarkan ceramah, dan lain sebagainya yang kemudian ter-mindset dalam otak, kemudian kalau sudah parah masuk di dalam hati nah kemudian tercermin dalam sikap.

Apa saja? Sikap eksklusif terhadap perubahan, intoleransi terhadap keragaman dan perbedaan, kemudian sikap antibudaya dan antikearifan lokal, sikap antipemerintahan yang sah. Anti di sini bukan berarti oposisi dan kritis. Oposisi di era demokrasi itu boleh, oposisi yang konstruktif, yang menjadi check and balance.

Anti itu artinya sikap membenci dengan membangun kebencian dan distrust atau ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara atau pemerintahan yang sah, dengan sebaran hoaks, konten hate speech, provokatif, adu domba, dan sebagainya. Karena ini kan gerakan politik yang memanipulasi, mempolitisasi, dan mendistorsi agama untuk kekuasaan, yang ending-nya nanti ingin mengganti ideologi negara.

Di Direktorat Pencegahan, tentu untuk mencegah sesuatu perlu mapping. Apakah BNPT punya mapping?
Pasti dan sesuai dengan amanah UU ataupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, maka semua mapping (pemetaan) tadi harus dilandasi pada riset. Maka kami ada yang namanya hasil riset tentang indeks potensi radikalisme. Jadi kita mapping, survei terhadap masyarakat yang masih moderat, yang sudah anti Pancasila, yang sudah anti pemerintahan yang sah, kemudian masyarakat yang cenderung anti budaya dan kearifan lokal.

Kalau petanya sudah diketahui, apa yang dilakukan?

Pertama, kita lakukan vaksinasi ideologi melalui penanaman nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai nasionalisme, Pancasila lewat pendekatan agama, melalui format silaturahmi kebangsaan. Kedua, melakukan kontra radikalisasi terutama mereka yang sudah OTG.

OTG dalam Covid-19 tidak ada gejala, kalau di terorisme?

OTG itu yang ketika kita survei ditanya apakah setuju kalau negara ini ideologi Pancasila diganti, nah yang menjawab setuju. Nah, yang seperti itu OTG. Kemudian yang ketiga, pencegahan di sini membantu Densus 88 didalam rangka preventif strike, setelah indikator radikalisme tadi, mereka masuk jaringan teror, kita koordinasi dengan Densus 88 dan Densus 88 sebagai eksekutor di dalam law enforcement melakukan preventif strike. Menindak, menangkap guna mencegah sebelum mereka beraksi.

Jadi ada tiga, ya. Pertama yang moderat supaya imun dan tidak terpapar kita cegah. Kedua, yang OTG supaya sembuh dan tidak bergabung ke jaringan teroris. Ketiga, yang sudah jadi teroris supaya tidak melakukan aksi. Cuma yang terakhir ini ranah dan eksekutornya Densus 88.

Apakah satu daerah yang indeks radikalismenya tinggi itu otomatis adalah supplier teroris?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved