Berita Pendidikan Hari Ini

UGM Dorong Komisi Etik Penelitian Raih Sertifikasi Internasional

Komisi etik ini akan dikembangkan di setiap masing-masing rumpun ilmu yang ada di lingkungan UGM.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Gaya Lufityanti
www.idntimes.com
Graha Sabha Pramana 

Tribunjogja.com - Universitas Gadjah Mada akan mendorong terbentuknya komisi etik penelitian yang memiliki akreditasi dan bersertifikasi internasional.

Komisi etik ini akan dikembangkan di setiap masing-masing rumpun ilmu yang ada di lingkungan UGM.

“Tahun ini kita akan ajukan akreditasi komisi etik penelitian agar semakin terpercaya dan terstandar sehingga menjamin subyek penelitian dan para penelitinya,” kata Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM drg. Ika Dewi Ana, M.Kes, Ph.D., dalam bincang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang bertajuk Prinsip Etik dalam Penelitian, Selasa (14/6/2022).

Ika Dewi Ana menyebutkan saat ini komisi etik bidang Kedokteran dan Kesehatan telah mendapat sertifikasi.

Baca juga: Rektor UGM Bekali Mahasiswa KKN Soal Kampanye Anti Kekerasan Seksual

Untuk komisi etik bidang ilmu lainnya akan terus didorong untuk memperoleh akreditasi.

Bagi Ika Dewi Ana, adanya komisi etik yang sudah terakreditasi akan semakin mendorong para peneliti untuk mengedepankan etika dan integritas dalam setiap proses penelitian, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi.

“Kita ingin penelitian penelitian dan pengabdian kita semakin hari semakin berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat. Tentu ini tentu tidak lepas dari cara kita menyelenggarakan penelitian tersebut,” ungkapnya.

Ika mengakui memang tidak mudah menegakkan etika dan integritas dalam setiap penelitian sehingga diperlukan keberadaan komisi etik tersebut.

Dosen Fakultas Biologi Dr. Bambang Retno Aji menuturkan nilai etika, integritas, tanggungjawab, kejujuran sangat diperlukan dalam pelaksanaan penelitian dan publikasi.

Baca juga: Kunjungi UGM, Presiden Jerman Bahas Food Security

“Data penelitian harus bisa dipertanggungjawabkan tingkat orisinalitasnya untuk mendapatkan data itu. Lalu perlakukan terhadap objek seperti apa.  Semua data tersebut harus tervalidasi,” jelasnya.

Di samping itu, tambahnya, peneliti diharuskan menjaga kerahasiaan penelitiannya serta  memperhitungkan dampak penelitian bagi lingkungan terutama untuk penelitian sains.

Penelitian pada modifikasi genetik untuk sebuah spesies atau mikroorganisme harus dijaga dengan ketat tingkat keterisolasiannya di laboratorium karena apabila dilepas sembarang bisa berdampak pada lingkungan.

“Jika mikroorganisme itu ternyata tahan antibiotik atau hewannya bereproduksi, tentu berdampak signifikan pada lingkungan,” pungkasnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved