Sampah dan Kesadaran Lingkungan

Apa yang terjadi di TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) Piyungan tampaknya akan menjadi bola liar bila tidak ditangani dengan baik

Sampah dan Kesadaran Lingkungan
Istimewa
Dr. Lukis Alam, Staf Pengajar di Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

*Oleh: Dr. Lukis Alam, Staf Pengajar di Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

BELAKANGAN, hiruk pikuk permasalahan sampah mengemuka kembali ke publik, jika dikatakan Yogyakarta darurat sampah, karena demikian faktanya yang mungkin terjadi. Sadar atau tidak, pengelolaan sampah tidaklah mudah. Apa yang terjadi di TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) Piyungan tampaknya akan menjadi bola liar bila tidak ditangani dengan baik.

Tidak hanya terjadi di tahun 2022 ini, sebelumnya, kejadian serupa kerap terulang. Cukup miris memang, melihat Yogyakarta sebagai salah satu destinasi pariwisata, sisi lainnnya, kita harus berpikir keras agar problem sampah tertangani secara komprehensif.

Tak ayal para pihak saling melempar tanggung jawab dan argumen. Logika sehat kita pastinya menolak melihat gunungan sampah, karena memang mengganggu pemandangan dan baunya menyengat sekali. Sepertinya kekecewaan dan nyinyiran dalam hati masih menjadi saluran wajar sebagian warga untuk meluapkan ketidakpuasan penanganan sampah.

Apa yang terjadi di Piyungan setidaknya bisa memberikan gambaran utuh betapa kompleksnya urusan persampahan. Load sampah yang ditampung di TPST tersebut luar biasa besar, hampir seluruh sampah di Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul dan Kabuapaten Sleman, muara pembuangan sampah di TPST Piyungan.

Entah berapa ton per hari sirkulasi sampah di ketiga wilayah tersebut dan ke depan mungkin harus dipikirkan juga optimalisasi pengelolaan sampah untuk meminimalisir situasi seperti sekarang. Membayangkan sejenak menjadi masyarakat yang berinteraksi secara langsung di sekitar TPST barangkali akan menyajikan pengalaman yang kurang mengenakkan, apalagi seandainya rumah atau keseharian kita setiap hari di sana.

Terjadinya blokade di TPST Piyungan karena dampak limbah sampah sangat mengganggu, hilir mudik truk-truk pengangkut sampah itu setiap hari menuju TPST Piyungan, sampai akhirnya warga berinisiatif memblokade daerah tersebut. Maka, seharusnya upaya berkelanjutan guna menemukan formulasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan bisa terealisir dengan cepat.

Slogan membuang sampah pada tempatnya sebagaimana kita lihat dan banyak terpampang di berbagai tempat tampaknya tidak selalu efektif untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa faktanya setiap sampah yang dibuang, hakikatnya hanyalah memindahkan sampah yang kita miliki untuk dipindahkan ke tempat lain, kemudian dialihkan ke tempat yang lebih besar, bisa jadi ke depo dan ke TPST.

Setelah itu, apa yang bisa dilakukan? kita tidak tahu proses selanjutnya bagaimana. Atau jangan-jangan, selama ini kita hanya melakukan prosedural semata? Proses pembuangan sampah itu, hanya sekedar memindahkan sampah sebagai sesuatu yang terlihat oleh mata kepada sesuatu yang tidak kasat mata?

Bila sampah itu sudah tidak terlihat di depan kita, urusan selesai. Entah sampah tadi dibawa kemana, bukan urusan kita lagi. Mungkin hingga beberapa tahun, sampah yang kita buang tadi masih saja bertengger di TPST, tidak mungkin juga sekejap mata sampah langsung ditelan bumi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved