Berita Bantul Hari Ini

Bupati Bantul Sebut Permasalahan Sampah Adalah Tanggung Jawab Bersama

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyatakan bahwa permasalahan sampah sangat mendesak untuk segera ditangani.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
DOK. Humas Pemkab Bantul
Bupati Bantul Abdul Halim 

TRIBUNJOGJA.COM - Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyatakan bahwa permasalahan sampah sangat mendesak untuk segera ditangani.

"Data menunjukan bahwa potensi timbunan sampah sebesar 400 ton sehari, sedangkan kemampuan kita untuk mengolah hanya 100 ton per hari," ujar Bupati Bantul, Kamis (12/5/2022).

Menurutnya, sampah adalah permasalahan serius, dan ini merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah, kalurahan, dunia usaha, kelompok masyarakat dan tentu saja masing-masing individu.

"Saat ini banyak kita jumpai sampah dibuang pada tempat yang tidak semestinya, di pinggir jalan, sungai, saluran irigasi dan pekarangan kosong. Bahkan kondisi TPA piyungan kita saat ini sudah penuh dengan sampah , hal ini dapat menimbulkan pencemaran, gangguan kesehatan dan estetika," terangnya.  

Baca juga: Bupati Bantul Usulkan Solusi Penanganan Sampah TPST Piyungan

Oleh karena itu, Halim mengajak seluruh masyarakat Bantul untuk lebih peduli dan meningkatkan pengelolaan sampah, dengan cara mengurangi, memilah, memanfaatkan dan mengolah sampah mulai dari rumah tangga.

Menurutnya, mengelola sampah adalah bagian dari ibadah, dan jangan sampai kita mewarisi anak dan cucu dengan bumi yang sudah rusak karena sampah.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat Bantul untuk mendukung dan mewujudkan program Bantul Bersih Sampah 2025.

Pihaknya mengklaim bahwa volume sampah dari Bumi Projotamansari cenderung menurun karena ada program Bantul Bersih Sampah 2025. Konsepnya adalah sampah selesai di desa.
 
"Oleh karena itu kami gelontorkan dana Rp50 juta per padukuhan di antaranya untuk membuat rumah pilah sampah," tuturnya. 

Halim menyatakan apabila setiap kelurahan punya rumah pilah, maka sampah seperti plastik, kertas, dan pecahan sudah dipilah-pilah. Selanjutnya sampah yang sudah terpilah akan ada yang membelinya.

"Jadi tidak bingung lagi akan dikemanakan sampah-sampahnya karena sudah ada yang mau beli," terang dia.

Sementara untuk sampah sisa makanan dapat dikumpulkan dan digunakan untuk budidaya maggot.

Baca juga: Sampah Wisata di Pantai Parangtritis Capai 15 Ton

Maggot yang dapat mengurai sampah ini kemudian bisa digunakan sebagai pakan alternatif untuk peternakan.

Menurutnya, jika konsep ini bisa diterapkan di padukuhan maka TPST Piyungan tidak diperlukan lagi.

Lebih lanjut, Bupati berpesan agar masyarakat yang terdampak penumpukan sampah di TPST Piyungan untuk bisa memahami masalah sampah ini.

Dijelaskannya bahwa sampah yang dibuang itu merupakan kepentingan regional.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved