Isu BPA di Galon Polikarbonat, Mafindo Harap Unsur Kesehatan Pangan Jadi Perhatian Bersama
Mafindo berharap unsur kesehatan pangan tetap harus menjadi perhatian bersama, meski ada dugaan persaingan usaha.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) buka suara terkait isu Bisfenol A (BPA) di Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini.
Mafindo berharap unsur kesehatan pangan tetap harus menjadi perhatian bersama, meski ada dugaan persaingan usaha.
”Saya tidak menutup mata memang adanya kemungkinan persaingan bisnis atau usaha terkait isu BPA ini, tapi, saya bukan ahli persaingan bisnis. Saya cuma orang yang mengerti apa itu metodologi sains,” ujar Presidium Mafindo Bidang Cek Fakta, Eko Juniarto dalam keterangan resmi, Selasa (26/4/2022).
Dia mengatakan pihaknya masih menunggu hasil evaluasi Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM).
“Namun, kalau melihat standar yang berlaku di Eropa dan Kanada, sepertinya akan disesuaikan ambang batas amannya,” tukasnya.
Sebelumnya, dari sisi ilmiah, Pakar Polimer Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahmad Zainal Abidin, sudah menjelaskan bahwa Polikarbonat (PC) itu merupakan bahan plastik yang aman.
Menurutnya, antara BPA dan PC itu dua hal yang berbeda. Banyak orang salah mengartikan antara bahan kemasan plastik Polikarbonat dan BPA sebagai prekursor pembuatnya.
Dia mengatakan beberapa pihak sering hanya melihat dari sisi BPA-nya saja yang disebutkan berbahaya bagi kesehatan tanpa memahami bahan bentukannya yaitu Polikarbonatnya yang aman jika digunakan menjadi kemasan pangan.
Menurutnya, BPA itu memang ada dalam proses untuk pembuatan plastik PC.
Dia mengibaratkannya seperti garam NaCl (Natrium Chloride), dimana masyarakat bukan mau menggunakan Klor yang menjadi bahan pembentuk garam itu, tapi yang digunakan adalah NaCl yang tidak berbahaya jika dikonsumsi.
”Jadi dalam memahami ini, masyarakat harus pandai mengerti agar tidak dibelokkan oleh informasi yang bisa menyesatkan dan merugikan,” kata Zainal.
Dia juga berharap berita-berita yang terkait BPA galon guna ulang harus dijelaskan secara ilmiah dan jangan dikontroversikan menurut ilustrasi masing-masing yang bisa menyesatkan.
“Jadi, harus dengan data ilmiah sehingga masyarakat kita akan memahami dan bisa mengambil keputusan sendiri,” ujarnya.
Pakar Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Eko Hari Purnomo, juga mengatakan BPA yang ada dalam kemasan galon guna ulang jika ditinjau secara ilmiah, kecil kemungkinan akan menimbulkan bahaya.
"Rasanya tidak mungkin ada migrasi atau perpindahan BPA dari kemasan galon ke dalam airnya, mengingat BPA itu tidak larut dalam air. BPA ini hanya larut dalam pelarut organik seperti alkohol, eter, ester, keton, dan sebagainya,” tukasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/WAJIB-TAHU-Segini-Suhu-untuk-Mematikan-Kuman-di-Galon-Air-Mineral-Jaga-Tubuh-Tetap-Sehat-Ya-Luuur.jpg)