Berita Bantul Hari Ini

Madumongso, Jajanan Khas Lebaran Makanan Tradisional Bangsawan Sejak Abad Ketujuh 

"Dari prasasti yang ditemukan, terdapat cerita bahwa di Blitar atau di Malang, Jawa Timur, madumongso menjadi makanan raja dan kaum bangsawan

Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Rukmana
Proses produksi Madumongso Bagaskoro, yang berada di Padukuhan Ngringinan, Kalurahan Palbapang, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (25/4/2022) siang. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Madumongso merupakan cemilan atau jajanan tradisional dengan ciri khas rasa manis. 

Windu Kuntoro (48), selaku pemilik Madumongso Bagaskoro, yang berada di Padukuhan Ngringinan, Kalurahan Palbapang, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengatakan, madumongso menjadi jajan jadul sejak abad ketujuh atau sejak Kerajaan Mataram Hindu. 

"Dari prasasti yang ditemukan, terdapat cerita bahwa di Blitar atau di Malang, Jawa Timur, madumongso menjadi makanan raja dan kaum bangsawan zaman dulu. Pada saat itu, makanan tersebut jarang bisa dimakan oleh orang lain atau selain kaum bangsawan," kata Windu, kepada wartawan di tempat usahanya, Senin (25/4/2022) siang. 

Baca juga: Geliat Pemudik dari Yogyakarta Menuju Pulau Sumatera Mulai Ramai di Terminal Jombor Sleman

Dikatakannya, pada era modern saat ini, produk madumongso masih terus dipasarkan ke berbagai daerah. 

Pihaknya juga sedang memikirkan dan merencanakan membuat kemasan baru yang unik. 

Ia ingin produk tersebut bisa menuju kepada segmen kaum muda. 

Pada hari biasa ia mampu memproduksi 25 kilogram per hari.

Tetapi pada saat Ramadan dan Lebaran Idulfitri ia mampu memproduksi 50 kilogram per hari. 

Sehingga dalam satu bulan dia menghasilkan 1.000 kilogram atau 1 ton. 

Emmelia Andriyani (46), selaku istri Windu Kuntoro juga mengatakan, rata-rata konsumen paling banyak datang dari DIY. 

"Kalau konsumen dari DIY mereka beli madumongso untuk dijadikan oleh-oleh kepada saudara yang pulang ke kampung halaman. Namun, ada pula yang datang dari luar kota, baik itu dari provinsi DKI Jakarta, Kota Semarang, sampai pulau Sulawesi dan pulau Kalimantan, untuk membeli madumongso di tempat saya secara online," terang Emmelia. 

Baca juga: Jelang Lebaran 2022, Personel Polres Bantul Patroli Hingga ke Kampung-kampung

Setiap hari pihaknya memproduksi madumongso dari pukul 06.00-16.00 WIB. 

Untuk memproduksi madumongso, dia harus menyiapkan berbagai bahan dasar berupa gula jawa, gula pasir, ketan, dan kelapa. 

"Proses pembuatan madumongso sangat susah dan sangat berat. Maka dari itu, jarang ada orang yang buka usaha atau memproduksi madumongso," tambahnya. 

Jelasnya, madumongso tersebut dapat dibandrol Rp52.000 per kilogram dan juga terdapat dua variasi bentuk, yakni bentuk bulat dan bentul lonjong. (Nei)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved