Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY

Penguatan Peran Keluarga

Mengawali bulan Ramadan tahun ini, kita dikejutkan dengan berita kejahatan jalanan yang menewaskan seorang pelajar.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Dr Zunly Nadia, Founder Madrasah Virtual Ulul Albab dan Anggota Komisi Pendidikan MUI DIY 

Pembentukan karakter memang harus dimulai dari dalam rumah dan diajarkan sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan secara konsisten setiap hari.

Termasuk mengajarkan dan mengawasi penggunaan media sosial pada anak-anak dan mengajarkan untuk mengisi waktu luang dengan aktivitas yang positif.

Anak-anak usia remaja yang sedang mengalami masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa ini, memiliki tenaga dan pikiran yang kuat yang seharusnya dimaksimalkan untuk kegiatan kegiatan positif. Sebagaimana istilah Klithih yang pada awalnya adalah kegiatan bersantai di luar rumah tanpa tujuan yang jelas dan untuk mengisi waktu luang. Karena tanpa ada tujuan yang jelas, kemudian kegiatan ini digunakan untuk kegiatan kriminal yang sarat dengan kekerasan.

Ketegasan pihak aparat kepolisian untuk menghukum para pelaku klithih ini tidak akan mengurangi kasus klithih yang semakin marak terjadi di kalangan anak remaja, jika tidak diimbangi dengan upaya pencegahan melalui pendidikan karakter di dalam keluarga. Pendidikan karakter di dalam keluarga tidak akan terbentuk jika hubungan antara suami dan istri, antara orang tua dan anak tidak maslahah.

Kemaslahatan tidak akan terjadi jika sebuah keluarga tidak dibangun dengan prinsip muadalah (keadilan), mubadalah (kesalingan), dan muwazanah (keseimbangan), dan prinsip-prinsip tersebut tidak akan terealisasi jika pasangan tidak siap secara mental terutama untuk membangun rumah tangga.

Ternyata mata rantai dari kasus klithih yang terjadi cukup panjang, dan memerlukan pencegahan dari berbagai macam lini. Tidak hanya diselesaikan melalui jalur hukum setelah kasus tersebut terjadi, melainkan perlu pencegahan melalui penguatan pendidikan karakter di tingkat keluarga.

Untuk mencapai hal itu maka kita tidak bisa hanya menyerahan persoalan klitih ini kepada pihak kepolisian, melainkan perlu sinergi antar komponen lain seperti Dinas Pendidikan, PKK, Ormas keagamaan, hinggga penguatan peran RT RW dalam upaya mengontrol mobilitas anak remaja di lingkungan sosialnya.

Tapi di atas semua itu, sekali lagi yang paling penting adalah memperkuat eksistensi keluarga dalam mendidik, membina, dan mengayomi anggotanya sehingga akan terwujud karakter dan kepribadian seorang anak yang baik dan berkualitas. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved